News

Jadi Korban Penipuan Pekerjaan Online, 174 Warga Malaysia Masih Terdampar di Luar Negeri

Jadi Korban Penipuan Pekerjaan Online, 174 Warga Malaysia Masih Terdampar di Luar Negeri
Warga Malaysia yang jadi korban penipuan pekerjaan luar negeri tiba di tanah air mereka dari Kamboja pada 9 September 2022 di Bandara Internasional Kuala Lumpur. (Channel News Asia)

AKURAT.CO Sekretaris Polisi Malaysia Noorsiah Saaduddin mengaku telah menerima 224 laporan yang diajukan oleh anggota keluarga dan teman dari 284 korban penipuan pekerjaan. Dari total jumlah tersebut, 110 warga Malaysia berhasil diselamatkan. Artinya, 174 korban lainnya masih terlunta-lunta di luar negeri.

"Polisi akan menggunakan semua platform untuk bekerja sama dengan lembaga seperti Aseanapol dan Interpol untuk mengatasi masalah ini. Polisi juga bergabung dengan pansus yang diketuai Kementerian Luar Negeri," terangnya pada Jumat (30/9), dilansir dari Channel News Asia.

Noorsiah pun berpesan kepada warga Malaysia agar berhati-hati saat menerima tawaran pekerjaan di luar negeri di media sosial dan memverifikasi keaslian data perekrut kerja dengan Kementerian Luar Negeri.

baca juga:

"Kepolisian juga menyambut baik bantuan masyarakat dalam melaporkan setiap informasi tentang kegiatan sindikat penipuan kerja, sehingga dapat diambil tindakan lebih lanjut," tambahnya.

Kabar tentang penipuan ini mulai mencuat pada pertengahan tahun lalu. Beroperasi di luar negeri, seperti Kamboja, Laos, dan Myanmar, sindikat umumnya menggunakan platform media sosial seperti Facebook dan Instagram untuk mengiklankan pekerjaan bergaji tinggi di luar negeri.

Begitu korban terpancing ke luar negeri, mereka ditahan di luar kehendaknya di kompleks penipuan. Mereka lantas diajari dan dipaksa untuk menipu orang secara daring. Jenis penipuannya mencakup penipuan kripto, penipuan investasi daring, dan serangan phising.

Dokumen perjalanan dan ponsel korban biasanya disita oleh sindikat. Mereka dilarang meninggalkan bangunan dan dipaksa bekerja hingga 15 jam sehari. Mereka yang tak mau menurut pun akan dipukuli, tak diberi makan, dan dijual ke sindikat lain.

Pada 20 September, Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri Yaakob berjanji akan membantu warga Malaysia yang terlunta-lunta di luar negeri.

"Saya ingin tekankan bahwa pemerintah sangat prihatin dan memandang serius nasib warga Malaysia yang terdampar di beberapa negara, seperti Laos, Myanmar, Thailand, dan Kamboja," ucapnya.

Kementerian Luar Negeri Malaysia pada 21 September mengaku telah menerima 301 laporan kasus semacam itu di 4 negara. Sebanyak 168 korban berhasil diselamatkan dan dibawa kembali ke Malaysia. Sementara itu, 34 lainnya ditahan di pusat imigrasi dan 99 sisanya masih dilacak oleh otoritas di masing-masing negara.[]