Rahmah

Jadi Ketum PBNU, Gus Yahya Akui Lebih Berat Tantangannya dari Jubir Presiden

Ketua PBNU KH Yahya Cholil Staquf mengaku menjadi Ketua Umum PBNU lebih berat tantangannya daripada menjadi Juru Bicara Presiden Republik Indonesia.


Jadi Ketum PBNU, Gus Yahya Akui Lebih Berat Tantangannya dari Jubir Presiden
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terpilih periode 2021-2026 Yahya Cholil Staquf atau dikenal Gus Yahya (tengah) melambaikan tangan bersama para pendukungnya di Lampung, Jumat (24/12/2021). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO  Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau yang lebih akrab disapa Gus Yahya mengaku menjadi Ketua Umum PBNU lebih berat tantangannya daripada menjadi Juru Bicara Presiden Republik Indonesia. Diketahui sebelumnya, Gus Yahya pernah menjadi Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

"Ya ini jelas paling menantang dari semuanya. Karena menjadi Ketua Umum PBNU, saya kira cita-cita dari semua warga NU sejak lahir. Ini adalah capaian tertinggi, tapi juga tantangan terbesar yang harus saya hadapi. Hidup mati saya cukup puas lah," kata Gus Yahya dikutip dari Channel  TV9 News, Sabtu 15 Januari 2022.

Terkait dengan anggota pengurus PBNU periode ini, Gus Yahya juga mengakui jika kepengurusannya semakin "gemuk" daripada sebelum-sebelumnya adalah hal yang wajar. Oleh sebab itu, Gus Yahya berharap dengan banyaknya personel pengurus, NU dapat mengajangkau Nahdliyin seluas-luasnya.

"Saya kira ini wajar karena anggota NU berjumlah 120 juta jiwa menurut survei terkahir 50,7 % dari seluruh populasi Muslim di Indonesia. Kita ingin sungguh-sungguh melakukan sesuatu menjangkau seluas mungkin dari warga NU ini tentu wajar kalau kita butuh lebih banyak personil," kata Gus Yahya.

Selain itu, kata Gus Yahya karena memang adanya kebutuhan tambahan personil untuk menghendel urusan-urusan besar lainnya. Sehingga PBNU butuh sosok yang memiliki kompetensi pada masing-masing bidangnya.

"Disamping itu, kita menghadapi persoalan yang kompleks untuk penanganan yang serius, itu semua jelas-jelas membutuhkan upaya personil yang lebih banyak, latar belakang keahlian, latar belakang kapasitas dari personil-personilnya," ucap Gus Yahya.

Gus Yahya lalu menyebut saat ini ada dua bidang yang sedang menghadapi berbagai tantangan yaitu soal kegamangan dan ekonomi.

"Yang pertama soal keagamaan, kita ini mengahadapi perubahan yang luar biasa, yaitu fundamental, sehingga kita membutuhkan untuk membangun wacana-wacana yang luas sebagai upaya menjawab tantangan-tantangan dari peradaban-peradaban ini," tuturnya.

"Ekonomi, belakang menghadapi masalah-masalah besar sehingga tidak lama lagi kita harus betul-betul mampu memobilisasi energi sebesar mungkin untuk memulihkan keadaan, misalnya dari pandemi ini. Sehingga ada banyak upaya-upaya dari ekonomi yang harus kita kerjakan dan eksekusi sebagai satu gerakan semesta," imbuhnya. []