News

Jadi Induk Al-Qur'an dan Rukun Salat, begini Kandungan Lengkap Surah Al-Fatihah


Jadi Induk Al-Qur'an dan Rukun Salat, begini Kandungan Lengkap Surah Al-Fatihah
Ilustrasi (flickr.com/M Mahdi)

AKURAT.CO, Surah Al-Fatihah merupakan surah pendek yang harus dihafalkan setiap muslim karena menjadi rukun salat. Minimal, dalam sehari semalam setiap muslim akan membaca surah yang berarti pembukaan ini sebanyak tujuh belas kali sejalan dengan total jumlah rakaat salat lima waktu setiap harinya.

Lafal surah Al-Fatihah adalah sebagai berikut:

Jadi Induk Al-Quran dan Rukun Salat, begini Kandungan Lengkap Surah Al-Fatihah - Foto 1
ISTIMEWA


1. Bismillaahir-rahmaanir-rahiim
2. Al-hamdu lillaahi rabbil 'aalamiin
3. Ar-rahmaanir rahiim
4. Maaliki yaumid-diin
5. Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin
6. Ihdinash-shiraatal mustaqiim
7. Shiraatalladziina an'amta 'alaihim ghairil maghdluubi 'alaihim wa ladl-dlaa-lliin

Artinya:
1. "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
2. "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam."
3. "Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
4. "Yang menguasai di hari pembalasan."
5. "Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan."
6. "Tunjukkanlah kami jalan yang lurus."
7. "(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."

Surah Al-Fatihah ini memiliki sebutan lain yaitu Ummul Qur'an yang berarti induknya Al-Qur'an. Penamaan ini didasarkan oleh penjelasan para ahli tafsir yang mengatakan bahwa intisari Al-Qur'an terangkum dalam tujuh ayat tersebut.

Tiga ayat pertama dari Al-Qur'an merupakan bagian dari Asmaul Husna yang menunjukkan sifat keagungan Allah Swt. Selain itu, tiga ayat pertama tersebut juga mengajarkan kepada manusia tentang ketauhidan di mana Allah Swt memiliki nama yang indah dan menggambarkan sifatnya.

Sederhananya, tiga ayat pertama yang menjelaskan sifat Allah tersebut membuktikan bahwa Allah merupakan Zat yang penuh dengan kasih sayang, muara segala puji karena Dialah yang menciptakan segalanya, dan Dialah yang menguasai alam semesta.

Pada ayat keempat yang berarti "menguasai hari pembalasan", setidaknya mengandung dua makna. Pertama, ayat tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satu makhluk pun yang mampu mengetahui kapan hari kiamat akan tiba karena itu mutlak kewenangan Allah Swt. Kedua, kata "menguasai" bermakna segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini hingga hari pembalasan tiba adalah murni kekuasaannya dan tidak ada satu makhluk pun yang dapat menandinginya.

Selanjutnya pada ayat kelima adalah wujud hubungan antara makhluk dengan Sang Khaliq bahwa semua makhluk diciptakan pasti akan tunduk dan patuh (beribadah) kepada-Nya. Selain itu, ketika seseorang membacanya maka sejatinya ia sedang berserah diri kepada Allah bahwa semua pertolongan, Dia yang punya kekuatan melebihi apa  pun.

Menurut Prof. Quraish Shihab dalam Tafsif Al-Misbah, kata "kami" pada ayat di atas menunjukkan bahwa sebagai seorang muslim kita diajarkan untuk menerapkan pentingnya makna kebersamaan hingga puncaknya berlaku adil kepada siapa pun (keadilan sosial). Begitu pula ketika beribadah, setiap muslim dianjurkan untuk melakukannya secara bersama-sama karena dengan bersama-sama, maka kekurangan setiap muslim akan saling tertutupi.

Kemudian pada ayat keenam merupakan suatu doa dari hamba kepada Allah bahwa sejatinya dalam mengarungi kehidupan di dunia pasti akan menjumpai jalan yang berliku. Oleh sebab itu pada ayat terakhir dirincikan bahwa jalan lurus yang dimaksud adalah jalannya orang-orang yang beriman bukan mereka yang menyekutukan Allah.

Wallahu a'lam.[]