News

Jadi 'Benteng' Terakhir di Luhansk, Ukraina dan Rusia Sama-sama Klaim Kuasai Lysychansk

Ukraina mengaku masih sanggup menahan serangan Rusia, tetapi separatis yang didukung Rusia mengaku telah berhasil memasuki kota dan mencapai pusatnya.


Jadi 'Benteng' Terakhir di Luhansk, Ukraina dan Rusia Sama-sama Klaim Kuasai Lysychansk
Menurut Gubernur Luhansk Serhiy Haida, serangan terhadap Lysychansk tak pernah berhenti. ()

AKURAT.CO Kota Lysychansk di timur Ukraina menjadi pusat perebutan pasukan Rusia dan Ukraina. Keduanya sama-sama mengeklaim merekalah yang memegang kendali atas kota tersebut.

Dilansir dari BBC, Ukraina mengakui adanya serangan intens Rusia. Namun, pasukannya masih sanggup menahannya dan bersikeras kota itu belum direbut.

Sebaliknya, separatis yang didukung Rusia mengaku telah berhasil memasuki kota dan mencapai pusatnya. Media Rusia pun menunjukkan video separatis atau pasukan Rusia yang terlihat berparade di jalan-jalan. Sumber-sumber Rusia juga mengetwit video bendera Soviet yang diduga dipasang di pusat administrasi kota yang hancur. Namun, video tersebut belum terverifikasi.

baca juga:

Inilah kota terakhir yang masih dikuasai Ukraina di Luhansk, bagian dari kawasan industri Donbas. Rusia sendiri telah merebut kota Severodonetsk di dekatnya bulan lalu.

Menurut Gubernur Luhansk Serhiy Haida, serangan terhadap Lysychansk tak pernah berhenti. Pasukan Rusia pun bergerak mendekati kota yang terkepung di semua sisi.

Sementara itu, menurut Rodion Miroshnik, duta besar Republik Rakyat Luhansk yang pro-Rusia, Lysychansk telah 'dikendalikan', tetapi belum 'dibebaskan'. Seorang blogger pertahanan, Rob Lee, membagikan foto-foto tentara Rusia Chechnya di dalam kota.

Dalam perkembangan lainnya, rel kereta api dan jalur listrik di kota utara Kharkiv rusak dalam serangkaian serangan. Tak ada korban yang dilaporkan.

Sementara itu, kota selatan Mykolaiv, rute utama menuju kota pelabuhan Odessa, diguncang oleh sejumlah ledakan. Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, angkatan udaranya telah menghancurkan 5 pos komando Ukraina dan membuang amunisi di sejumlah tempat. Namun, klaim ini belum diverifikasi secara independen.[]