Olahraga

Iwan Budianto: Aturan FIFA Susah Diterapkan 100 Persen di Sini

Iwan Budianto: Aturan FIFA Susah Diterapkan 100 Persen di Sini
Plt Ketua Umum PSSI, Iwan Budianto dalam konferensi pers Kongres Luar Biasa PSSI 2019. ( AKURAT.CO/Arie Lihardo)

AKURAT.CO, Mengharapkan standar FIFA pada sepakbola Indonesia bisa dikatakan hal yang tidak mungkin. Terutama karena keterbatasan stadion-stadion yang ada di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum PSSI, Iwan Budianto,menyusul terjadinya tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang.

Tragedi kelam memang terjadi di sepak bola Indonesia. Tepatnya di pekan ke-11 Liga 1 2022-2023 yang mempertemukan Arema FC vs Persebaya Surabaya, Sabtu (01/10/22).

baca juga:

Di mana dalam kejadian tersebut, banyak mengakibatkan jatuh korban jiwa sebanyak 131 orang meninggal dunia.

Tak pelak dengan kejadian ini banyak pihak kini bersama-sama mencari solusi agar permasalahan ini tidak kembali terulang di kancah sepak bola Indonesia.

PSSI bersama pemerintah dan sejumlah pihak terkait akan duduk bersama menyelaraskan aturan yang tepat. Nantinya, aturan akan dibuat khusus mengacu pada FIFA sebagai induk sepak bola dunia.

Iwan Budianto selaku orang lama di PSSI, mengaku telah membuka ruang untuk semakin menyelaraskan dengan FIFA dengan peraturan yang ada di Indonesia.

Iwan mengatakan memang sulit bagi FIFA menerapkan beberapa aturan karena beberapa persoalan.

"Kami bersyukur pemerintah memfasilitasi kami. PSSI adalah organisasi yg menginduk kepada FIFA dan kami terikat aturan FIFA," ucap Iwan Budianto.

"Sebelum ada kejadian ini, adalah hal mustahil menyamakan aturan FIFA dengan aturan negara ini," ia menambahkan.

Iwan Budianto menambahkan ada beberapa hal yang membuat aturan FIFA sulit diterapkan sepenuhnya.

Fasilitas Pertandingan Klub Indonesia

Salah satunya terbentur dengan fasilitas pertandingan yang dimiliki oleh klub-klub Indonesia.

"Apa yang diatur oleh FIFA, itu kan susah kita laksanakan 100 persen di sini. Seperti contoh paling sederhan stadion. Di Eropa itu, semua klub mempunyai stadionnya masing-masing sementara klub di sini meminjam," ucap Iwan.

"Eropa keamanan di sana itu pegawai dari klub tersebut, yang digaji setiap bulan yang tugasnya memang untuk mengamankan sebuah pertandingan."

"Tetapi di Indonesia karena keterbatasan kepemilikan tadi, sekaligus keterbatasan personilnya, maka panitia pelaksana pertandingan 18 klub Liga 1 itu meminta kekuatan dan keamanan dari kepolisian."

"Itu yang membedakan, sehingga masing-masing mempunyai peraturannya sendiri-sendiri," ungkapnya.[]

Lihat Sumber Artikel di Indosport Disclaimer: Artikel ini adalah kerja sama antara AkuratCo dengan Indosport.com Hal yang berkaitan dengan tulisan, foto, video, grafis, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab dari Indosport.com