Tech

ITB Berhasil Ujicoba Bensin Sawit, Diharapkan Impor Berkurang

Bensin sawit bisa digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor.


ITB Berhasil Ujicoba Bensin Sawit, Diharapkan Impor Berkurang
Uji coba Bensa untuk kendaraan roda empat di PT Pura Engineering, Kudus, Jawa Tengah. (itb.ac.id)

AKURAT.CO Pengembangan teknologi katalis dan pembangunan unit percontohan produksi bensin biohidrokarbon dengan bahan baku dasar minyak kelapa sawit dilakukan oleh Pusat Rekayasa Katalisis, Institut Teknologi Bandung (ITB), bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). 

Bertempat di Workshop PT Pura Engineering, Kudus, Jawa Tengah, pada 11 Januari lalu, dilakukan demonstrasi produksi dengan nama Bensa (Bensin Sawit).

Pada saat demonstrasi, dilakukan juga uji coba Bensa terhadap kendaraan roda dua dan roda empat.

baca juga:

Hasil uji coba tersebut menunjukkan bahwa bensa dapat bekerja dengan baik sebagai bahan bakar kendaraan bermotor.

Unit demo tersebut mengkonversi minyak sawit industrial (industrial vegetable oil, IVO) menjadi bensin sawit melalui proses perengkahan.

Unit ini dikembangkan oleh Pusat Rekayasa Katalisis ITB (PRK ITB), Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalis ITB (LTRKK ITB), Program studi Teknik Bioenergi dan Kemurgi (TBE) yang dipimpin oleh Subagjo.

Proses konversi IVO menjadi bensin sawit dilaksanakan melalui reaktor yang menggunakan katalis berbasis zeolit. 

Selain itu, tengah dikembangkan juga perancangan konseptual pabrik bensin sawit berkapasitas 50.000 ton/tahun. Unit produksi dikembangkan sebagai unit produksi yang bisa dibangun secara mandiri di sentra-sentra sawit yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia.

"Kami mencoba mengolah CPO menjadi IVO. Unit demo dengan skala 6-7 ton per jam telah dibangun. Saat ini ditempatkan di Kabupaten Musi Banyuasin (MUBA), Sumatera Selatan," kata Melia Laniwati Gunawan, dari KK Teknologi Reaksi Kimia dan Katalis - FTI, dilansir dari laman ITB.

Ia juga menjelaskan bahwa, IVO ini dipakai sebagai bahan baku untuk membuat bensa di unit percontohan produksi bensa.

Konversi IVO menjadi bensin membutuhkan katalisator, sehingga perlu reaktor untuk memproduksi katalis. Dengan menggunakan dana dari BPDPKS, pihaknya juga membuat set unit reaktor untuk memproduksi katalis. Di mana pabrik katalis dengan skala 40-50 kg per batch tersebut ditempatkan di Kampus ITB Ganesa. 

Bensin dari sawit memiliki nilai Research Octane Number, RON 105-112. Nilai tersebut sangat tinggi, sehingga produknya bisa dicampur dengan nafta yang dihasilkan dari minyak fosil. 

"Nafta punya bilangan oktan 70-80. Apabila dicampur dengan perbandingan tertentu kita bisa dapat bensa dengan RON 93, itu yang kita demokan di Workshop,” ujar Melia.

Melia menyampaikan, atas keberhasilan demo dan uji coba bensa tersebut, ke depannya akan dilakukan optimasi kapasitas produksi dan reaktornya. Kemudian, pihaknya akan membuat detail engineering design (DED). Setelah itu, sudah bisa membuat unit produksi dengan skala besar dengan katalis yang diproduksi ITB.

“Kita berharap unit produksi ini bisa ditempatkan di perkebunan kelapa sawit para petani, sehingga kebutuhan bensin mereka bisa menggunakan bensa. Dengan cara seperti ini, maka akan meringankan pemerintah (Pertamina) untuk memasok bahan bakar sampai ke pelosok,” jelas Melia.

Menurutnya, selama ini pemerintah selama melakukan impor minyak mentah dan bahan bakar yang sudah jadi. Dengan mengubah sawit menjadi bensa, diharapkan impor tersebut akan berkurang.