News

Istri Alex Noerdin Diperiksa Kasus Suap Dodi Reza

KPK juga memanggil Mursyid selaku ajudan Bupati Musi Banyuasin


Istri Alex Noerdin Diperiksa Kasus Suap Dodi Reza
Gedung KPK (AKURAT.CO)

AKURAT.CO- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa istri Alex Noerdin, Eliza terkait kasus dugaan korupsi pengadaan barang dan jasa di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Eliza diperiksa sebagai saksi untuk Dodi Reza yang telah ditetapkan sebagai tersangka.

Dodi Reza adalah bupati Muba dan putra Alex Noerdin, mantan Gubernur Sumatera Selatan 2 periode. Alex Noerdin sendiri saat ini tengah di tahan kejaksaan Agung dalam kasus korupsi PDPDE dan Pembangunan masjid Sriwijaya.

"Hari ini pemeriksaan saksi tindak pidana korupsi pengadaan barang dan jasa di Kabupaten Musi Banyuasin pada tahun anggaran 2021 dengan tersangka DRA," ucap Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (7/12/2021).

Selain Eliza, KPK juga memanggil Mursyid selaku ajudan Bupati Musi Banyuasin sebagai saksi untuk tersangka Dodi.

Terkait perkara ini, KPK memeriksa Erini Mutia Yufada pada akhir Oktober lalu. Erini dicecar soal penghasilan Dodi Reza Alex yang merupakan suaminya sebagai Bupati Musi Banyuasin.

Dodi telah ditetapkan bersama tiga orang lainnya. Mereka adalah Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Musi Banyuasin Herman Mayori, Kabid Sumber Daya Air/Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Dinas PUPR Kabupaten Musi Banyuasin Eddi Umari, dan Direktur PT Selaras Simpati Nusantara Suhandy.

"Setelah dilakukan pengumpulan berbagai bahan keterangan terkait dugaan tindak pidana korupsi dimaksud, KPK melakukan penyelidikan yang kemudian ditemukan adanya bukti permulaan yang cukup sehingga KPK meningkatkan status perkara ini ke tahap penyidikan dengan mengumumkan empat tersangka," kata Wakil Ketua KPK Alexander Marwata saat jumpa pers di gedung KPK, Sabtu (16/10/2021).

Dugaan korupsi di Musi Banyuasin diawal kegiatan tangkap tangan tim KPK. Selain mengamankan sejumlah orang tim mengamankan uang sekitar Rp1,7 miliar sebagai bukti transaksi suap.

Dalam perkara ini, Suhandy selaku pemberi disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.

Sedangkan sebagai penerima, Dodi dan kawan-kawan disangkakan melanggar Pasal 12 huruf (a) atau Pasal 12 huruf (b) atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Jo. Pasal Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.[]