News

Israel Bombardir Kantor Media Asing di Gaza, Gedung Musnah dalam Hitungan Detik

Israel mengklaim bahwa gedung itu telah 'menampung aset militer' dari kelompok Hamas


Israel Bombardir Kantor Media Asing di Gaza, Gedung Musnah dalam Hitungan Detik
Bola api membumbung tinggi ketika Jala Tower yang ada di Gaza dihancurkan oleh militer Israel pada Sabtu (15/5). (AFP via TRT World)

AKURAT.CO, Israel telah menghancurkan sebuah gedung bertingkat yang menjadi pusat kantor bagi sejumlah media, termasuk kantor berita asing Associated Press dan Al Jazeera di Gaza.

Serangan itu terjadi pada Sabtu (15/5) dan berlangsung hanya beberapa jam setelah Israel menggempur hingga menewaskan sedikitnya 10 warga Palestina di kamp pengungsi padat penduduk.

Belum ada penjelasan langsung sebelumnya mengapa gedung berlantai 15 itu menjadi sasaran. Namun kemudian, Israel mengklaim bahwa gedung itu telah 'menampung aset militer' dari kelompok Hamas. Padahal, gedung yang dinamai Jala Tower ini tidak hanya menampung dua organisasi media internasional, tetapi juga rumah bagi beberapa outlet media lain, termasuk kantor beberapa penyedia internet, hingga apartemen pribadi, seperti diwartakan The Guardian.

Jawwad Mahdi yang memiliki Jala Tower lantas membeberkan bahwa sebelum diledakkan, ia telah diperingatkan oleh seorang petugas intel Israel. Mahdi juga mengaku bagaimana dalam peringatannya itu, ia hanya diberi waktu sekitar satu jam untuk mengevakuasi para penghuni gedung. Namun, Mahdi juga menampik keras alasan Israel yang menyebut gedung miliknya adalah sarang bagi militer Hamas.

Dalam telepon dengan perwira itu, AFP juga mendengar Mahdi sempat meminta tambahan 10 menit agar para wartawan dapat mengangkut peralatan sebelum evakuasi.

Video Mahdi yang memohon-mohon diberi tambahan waktu itu juga sempat terekam dalam sebuah video yang kini viral. Di situ, Mahdi pun terlihat tengah berbicara di telepon dan memohon izin agar diberi waktu setidaknya 10 menit agar para jurnalis bisa mengambil peralatan mereka. 

"Yang saya minta adalah membiarkan empat orang ... masuk ke dalam dan mengambil kamera mereka," katanya. "Kami menghormati keinginan Anda. Kami tidak akan melakukannya jika Anda tidak mengizinkannya, tetapi beri kami 10 menit," kata Mehdi.

Petugas di ujung telepon menolak permintaan tersebut, dan pada saat itu Mahdi berkata: "Kamu telah menghancurkan pekerjaan hidup kita, kenangan, hidup. Aku akan menutup telepon. Lakukan apa yang kamu inginkan. Ada Tuhan," balas Mahdi.

Terbatasnya waktu evakuasi itu juga diceritakan langsung oleh wartawan Al Jazeera yang berbasis di Gaza, Khaled Lubbad.

Kepada TRT World, Lubbad mengakui bahwa Israel hanya memberi para wartawan beberapa menit sebelum mengevakuasi peralatan. 

Setelahnya, gedung dihantam dengan rudal kira-kira hingga enam kali. Dalam sekejap mata, Jala Tower langsung luluh lantah dengan kepulan asap hitam membumbung tinggi di sekitarnya. 

Al-Jazeera bahkan menggambarkan bagaimana saat itu, bangunan yang mulanya kokoh, langsung musnah hanya dalam waktu 'dua detik'.

"Saya meliput banyak peristiwa dari gedung ini, pengalaman profesional kami, dan sekarang semuanya musnah hanya dalam dua detik," ungkap koresponden Al Jazeera Safwat al-Kahlout, yang bekerja di kantor itu dalam 11 tahun terakhir. 

Al-Jazeera, jaringan media yang didanai pemerintah Qatar, menyiarkan serangan itu secara langsung dan menunjukkan gedung yang hancur.

Dalam siarannya itu, penyiar Al-Jazeera juga terlihat geram dengan ulah Israel. Ia bahkan menyebut bagaimana agresi Israel kepada kantornya ini tidak akan pernah berhasil membungkam suara Al-Jazeera. 

"Saluran televisi ini tak akan bisa dibungkam. Al Jazeera tidak akan bisa dibungkam. Kami dapat menjamin itu sekarang," kata presenter bahasa Inggris, Al Jazeera, Halla Mohieddeen dengan nada emosional.

Pejabat Direktur Jenderal Jaringan Media Al-Jazeera, Mostefa Souagjuga telah melontarkan hal senada.  

"Tujuan dari kejahatan keji ini adalah untuk membungkam media dan untuk menyembunyikan pembantaian dan penderitaan rakyat Gaza," kata Mostefa.

Sementara itu, Presiden dan CEO AP Gary Pruitt mengaku sangat terkejut dengan aksi agresi militer kepada awak media. 

"Kami terkejut dan merasa ngeri bahwa militer Israel akan menargetkan dan menghancurkan gedung yang menampung biro AP dan organisasi berita lainnya di Gaza.

"Mereka sudah lama mengetahui lokasi biro kami dan tahu ada wartawan di sana. Kami mendapat peringatan bahwa gedung akan dihantam.

"Kami mencari informasi dari pemerintah Israel dan bekerja sama dengan Departemen Luar Negeri AS untuk mencoba mempelajari lebih lanjut. 

"Dunia akan tahu tentang apa yang terjadi di Gaza karena apa yang terjadi hari ini," kata Pruitt.

Korban tewas secara keseluruhan di Gaza kini telah melonjak menjadi 139  orang, di antaranya termasuk 39 anak. Sedangkan, korban yang  terluka dilaporkan telah bertambah menjadi sekitar 950 orang.

Pada Senin (10/5), Hamas menembakkan roket ke arah Yerusalem sebagai tanggapan atas tindakan polisi Israel kepada warga Palestina di kompleks Masjid Al Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki. Serangan Hamas itu pun akhirnya makin mendorong Israel untuk mulai meluncurkan agresi udaranya ke Gaza.

Sejak itu, lebih dari 2.300 roket juga ditembakkan ke Israel. Korban tewas di sisi Israel mencapai sembilan orang, termasuk seorang anak dan seorang tentara, kata pejabat Israel. Sementara yang terluka mencapai lebih dari 560 orang.

Hamas mengandalkan roket buatan sendiri dibandingkan dengan militer Israel yang dipersenjatai dengan anggaran belanja USD 16,6 miliar (Rp236 triliun).[]

Anugrah Harist Rachmadi

https://akurat.co