News

Ismail Sabri Yaakob Kantongi 114 Dukungan Parlemen untuk Jadi PM Baru Malaysia

Mantan Wakil Perdana Menteri sekaligus Wakil Presiden UMNO Ismail Sabri Yaakob dijagokan sebagai perdana menteri berikutnya.


Ismail Sabri Yaakob Kantongi 114 Dukungan Parlemen untuk Jadi PM Baru Malaysia
Mantan Wakil Perdana Menteri sekaligus Wakil Presiden UMNO Ismail Sabri Yaakob. (Foto: Facebook/ismailsabri60) ()

AKURAT.CO, Semua mata warga Malaysia tengah tertuju ke istana pada Kamis (19/8). Pasalnya, raja Negeri Jiran dijadwalkan bertemu dengan 114 anggota parlemen yang menandatangani deklarasi hukum untuk mendukung mantan Wakil Perdana Menteri sekaligus Wakil Presiden UMNO Ismail Sabri Yaakob sebagai perdana menteri berikutnya.

Dilansir dari The Straits Times, Sultan Abdullah Ahmad Shah akan bertemu dengan anggota parlemen dalam 5 kelompok dari jam 10 pagi hingga jam 5 sore waktu setempat. Audiensi ini berlangsung sehari setelah batas waktu bagi anggota parlemen untuk menyatakan siapa yang mereka pilih untuk memimpin negara.

Jika 114 suara untuk Ismail terverifikasi, Anwar Ibrahim yang memimpin koalisi oposisi Pakatan Harapan pun gagal mendapatkan dukungan yang cukup untuk menjadi perdana menteri berikutnya. Angka 114 dari total 222 kursi parlemen itu sudah cukup sebagai dukungan mayoritas.

baca juga:

Pada Rabu (18/8), raja memutuskan bahwa anggota parlemen yang dipilih untuk menggantikan penjabat Perdana Menteri Muhyiddin Yassin masih perlu memberikan mosi tidak percaya di Parlemen untuk menegaskan legitimasinya. Konferensi Penguasa juga diharapkan mengadakan rapat khusus pada Jumat (20/8) untuk membahas masalah tersebut.

Pada Februari 2020, Sultan Abdullah memilih Tan Sri Muhyiddin Yassin setelah kebuntuan politik usai pengunduran diri mendadak mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad. Namun, pemerintah Muhyiddin diganggu oleh tuduhan sebagai 'pemerintah pintu belakang'.

Muhyiddin lantas kehilangan mayoritasnya dengan penarikan dukungan oleh 15 anggota parlemen UMNO dari Perikatan Nasional awal bulan ini. Ia pun berjanji untuk mendorong mosi kepercayaan di sidang parlemen berikutnya dan menawarkan serangkaian reformasi kepada oposisi untuk mengamankan suara yang cukup.

Namun, Muhyiddin terpaksa mengundurkan diri pada 16 Agustus setelah oposisi menolak kesepakatan reformasinya untuk mendapatkan dukungan bipartisan.[]