News

ISIS Klaim Jadi Dalang Serangan Pipa Gas di Suriah

ISIS mengakui bahwa para pejuangnya telah menanam bahan peledak di pipa gas alam utama di tenggara ibu kota Suriah tersebut. 


ISIS Klaim Jadi Dalang Serangan Pipa Gas di Suriah
Api muncul dari ledakan saluran gas di luar Damaskus, Suriah, 24 Agustus 2020. ISIS pada 18 September 2021, mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap pipa gas di tenggara ibukota Suriah yang menyebabkan pemadaman listrik di dalam dan sekitar kota (ASSOCIATED PRESS)

AKURAT.CO Negara Islam (IS/ISIS) telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap pipa gas di pembangkit listrik Deir Ali di Suriah. Klaim itu baru diumumkan oleh ISIS pada Sabtu (18/9) melalui saluran Telegram yang berafiliasi dengannya.

Dalam pernyataanya itu, ISIS mengakui bahwa para pejuangnya telah menanam bahan peledak di pipa gas alam utama di tenggara ibu kota Suriah tersebut. 

"Para Pejuang ISIS telah mampu menanam dan meledakkan bahan peledak di pipa gas yang memasok pabrik Tishreen dan Deir Ali," kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan.

Diketahui, akibat ulah ISIS itu, ibu kota Damaskus dan daerah sekitar menjadi gelap gulita akibat listrik padam. Ini karena stasiun Deir Ali menghasilkan setengah dari kebutuhan listrik Suriah, seperti diungkap Menteri Listrik Ghassan al-Zamel dalam komentar yang dimuat oleh kantor berita resmi SANA.

Zamel menjelaskan bahwa serangan terhadap pipa gas pada Jumat malam (17/9) telah menyebabkan stasiun berhenti beroperasi untuk sementara. Pemadaman itu kemudian memengaruhi beberapa stasiun lain, menyebabkan pemadaman listrik di Damaskus, pinggirannya, dan daerah lain. Menurut Zamel, listrik bisa segera dipulihkan sekitar 30 menit kemudian.

Sementara, pabrik Deir Ali dan Tishreen tetap tidak berfungsi.

Zamel menambahkan bahwa pihak berwenang telah memulai pekerjaan pemeliharaan pada Sabtu waktu setempat. Namun, ia juga memperingatkan penjatahan pasokan listrik sampai pipa diperbaiki dan pembangkit listrik kembali beroperasi normal.

Kekhalifahan ISIS di Suriah dinyatakan kalah menyusul serangan panjang yang didukung AS di dusun tepi sungai Baghouz pada 2019. Namun, kelompok militan itu terus melakukan serangannya terhadap pasukan pemerintah Suriah dari tempat persembunyiannya. Ini termasuk di gurun timur Suriah yang luas.

Infrastruktur gas dan minyak Suriah telah menjadi salah satu target para militan dan kelompok pemberontak yang menentang rezim Presiden Bashar al-Assad.

Konflik Suriah yang meletus sejak 2011 telah merusak jaringan listrik serta infrastruktur minyak dan gas di seluruh negeri.

Ladang minyak terbesar Suriah tetap berada di luar jangkauan pemerintah di timur laut yang dikuasai Kurdi, dan sanksi Barat telah menghambat impor bahan bakar dari luar negeri.

Warga Suriah di daerah yang dikuasai pemerintah harus menyesuaikan kehidupan rumah tangga mereka dengan listrik terbatas. Mereka bahkan biasa mengatasi pemadaman listrik hingga 20 jam sehari.[]