News

Irak Makin Kisruh! Ibukota Dihantam Roket Terus Menerus, Protes Kembali Rusuh

Irak Makin Kisruh! Ibukota Dihantam Roket Terus Menerus, Protes Kembali Rusuh
Orang-orang lari berhamburan mencari perlindungan saat demonstran bentrok dengan pasukan keamanan di Baghdad, Irak, pada Rabu (28/9) (Reuters)

AKURAT.CO Roket-roket telah mendarat di Zona Hijau Baghdad yang dijaga ketat, yang menjadi rumah bagi gedung-gedung pemerintah dan misi asing. Serangan roket ini dilaporkan terjadi selama dua hari berturut-turut.

Belum ada yang mengaku bertanggung jawab atas empat rudal yang ditembakkan dari timur ibukota pada Kamis (29/9) pagi. Belum pula ada laporan soal korban, menurut petugas polisi setempat.

Sementara pada Rabu (28/9), protes masih pecah di Irak, dengan para pendukung ulama Syiah Muqtada al-Sadr berusaha menyerbu Zona Hijau. Kerusuhan ini pecah saat parlemen Irak menggelar sesi tentang pengunduran diri ketuanya, dan memilih perdana menteri (PM) baru.

baca juga:

Al-Sadr dikenal sebagai pemimpin agama Syiah yang berpengaruh Irak. Bulan lalu, ia memutuskan pensiun dari dunia politik negara itu, menyusul kekisruhan hebat akibat kebuntuan politik yang terjadi.

Ketidakstabilan politik di Irak telah berlangsung selama setahun, menciptakan kerusuhan berdarah dalam konflik dua kubu utama yang berseberangan.

Pada Rabu, para pendukung al-Sadr kembali mencoba untuk menembus Zona Hijau. Mereka mencoba maju melewati pasukan keamanan yang menjaga parlemen, tetapi dihadang oleh polisi anti huru hara.

Media pemerintah Irak juga melaporkan pada Rabu sore bahwa tiga roket Katyusha telah jatuh di Zona Hijau.

Serangan roket di Zona Hijau telah menjadi hal biasa selama beberapa tahun terakhir. Namun, dalam beberapa bulan ini, telah terjadi pengurangan jumlah serangan. Rudal pun biasanya diarahkan untuk Barat oleh kelompok milisi yang didukung Iran.

Krisis politik Irak saat ini berakar dari perselisihan antara al-Sadr, yang memimpin dukungan jutaan rakyat Irak, dan saingannya, Kerangka Koordinasi. Pada pemilihan parlemen Oktober lalu, blok al-Sadr menjadi yang teratas, tetapi kemudian menolak bernegosiasi dengan Kerangka Koordinasi, blok payung partai-partai Syiah yang didukung Iran.