News

IPW Sebut Kasus Pelanggaran Etik Firli Bahuri Belum Terbukti


IPW Sebut Kasus Pelanggaran Etik Firli Bahuri Belum Terbukti
Brigjen Pol Firli (ISTIMEWA)

AKURAT.CO, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menyatakan bahwa isu pelanggaran etik yang dibunyikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Irjen Pol Firli Bahuri itu masih belum terbukti.

Hal ini dikarenakan, mantan Deputi Penindakan KPK yang kini menjabat Kapolda Sumatera Selatan itu sama sekali belum diproses lewat sidang etik, sehingga KPK tak layak menyebut bahwa Firli punya kesalahan.

"IPW berharap, mereka menyebutkan secara jelas, kapan sidang etik itu berlangsung dan apa isi keputusannya. Sebab dari penelusuran IPW, pelanggaran etik yang dituduhkan itu hanya 'katanya, katanya' yang tanpa dasar dan tidak ada proses hukumnya," ujar Neta S Pane dalam siaran persnya yang diterima di Jakarta, Senin (26/8/2019).

Neta menyebut, jika hanya isu yang ditebar ke publik tanpa adanya bukti, sama artinya KPK hanya menyebar fitnah untuk mengkriminalisasi capim secara personal, khususnya Firli.

Sebaliknya, jika memang ada datanya, IPW berharap hal itu dibuka saja ke publik dan capim bermasalah itu didorong untuk diproses hukum ke pengadilan.

"Jangan hanya karena takut kepentingan kelompoknya bakal terganggu, oknum KPK and the Gang itu bermanuver menyebar fitnah dan melakukan kriminalisasi lewat opini publik," tegasnya.

Sebelumnya, nama Firli sendiri saat menjabat sebagai Deputi Penindakan di KPK pernah diterpa isu pelanggaran etik saat bertemu secara pribadi dengan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Bajang (TGB).

Pertemuan antara keduanya menjadi polemik lantaran saat ini KPK sedang menyelidiki kasus divestasi saham PT Newmont di NTB yang diduga melibatkan TGB.

Kasus pelanggaran etik ini juga sempat dibawa ke ranah Pengawas Internal KPK, sebelum akhirnya Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyela untuk mengangkat Firli sebagai Kapolda Sumsel, dimana proses pengusutan di internal KPK saat itu belum sampai pada putusan final.

Isu pelanggaran etik ini kembali dibunyikan KPK setelah Firli lolos menjadi 20 orang terakhir yang maju dalam seleksi capim KPK jilid V.[]