Rahmah

Upaya Cegah Ketertindasan Perempuan, IPM Launching Platform Pelaporan Kekerasan Seksual

Upaya Cegah Ketertindasan Perempuan, IPM Launching Platform Pelaporan Kekerasan Seksual
Ketua PP IPM, Nahir Efendi menolak kekerasan seksual (Muhammadiyah)

AKURAT.CO Upaya melakukan pembelaan terhadap perempuan yang dinilai ditindas, Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Launching Platform Pelaporan Kasus Kekerasan Seksual dan Pusat Informasi HKSR oleh Peer Counselor IPM dan Konsolidasi Layanan Penanganan Kekerasan Seksual Berbasis Digital.

Ketua PP IPM, Nahir Efendi dilansir Akurat.co, Rabu (25/1), menyebut upaya ini merupakan langkah kecil untuk “Ciptakan Ruang Aman bagi Pelajar”, terutama dalam penanganan kasus kekerasan seksual yang semakin merajalela. Kegiatan ini merupakan program jangka panjang dari periode sebelumnya.

“Sehingga di periode kami ini sedang melanjutkan dari kebaikan dari periode-periode sebelumnya.” lanjutnya.

baca juga:

Ia berharap isu kekerasan selalu menjadi perhatian kader IPM. Sensitivitas tersebut penting untuk menekan angka dan kejadian kekerasan seksual yang kian marak terjadi. Penjagaan relasi kepada lawan jenis, imbuh Nashir, perintahnya sudah sangat jelas dalam Al Qur’an yaitu di Al Isra’ ayat 32 dan An Nur ayat 30.

Efendi juga berharap sebagai organisasi pelajar yang heterogen, IPM bisa menjadi percontohan organisasi pelajar Islam yang inklusif. Percontohan inklusif ini, katanya, menjadi kepeloporan lain dari IPM yang selama ini dikenal telah memiliki brand marking lain, yaitu pada dunia literasi.

Launching Platform Pelaporan Kekerasan Seksual oleh IPM ini direspon baik oleh Majelis pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) PP Muhammadiyah. Sebagaimana yang disampaikan oleh Alpha Amirrachman, Anggota Dikdasmen PP Muhammadiyah. Hematnya, platform ini kontekstual karena beberapa hari terakhir sedang marak kasus kekerasan seksual.

“Kami dari Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah mengapresiasi setinggi-tingginya kepada IPMAWAN dan IPMAWATI yang berinovasi, semoga bisa memberikan perlindungan yang preventif kepada pelajar kita.” Ucapnya.

"Model pelaporan yang masuk bukan hanya pasca kejadian, tetapi juga sebelum kejadian, sehingga bisa mencegah kekerasan seksual, khususnya kepada pelajar. Selain itu, dia berharap laporan yang masuk bukan hanya dari korban, tetapi juga dari lingkungan yang proaktif iku menekan angka kekerasan seksual," harapannya.[]