Ekonomi

I&P Indonesia dan Ikaned Bahas Solusi dan Tantangan Krisis Iklim di RI dan Belanda

Program ini dipersembahkan bagi masyarakat umum, aktivis dan pemerhati lingkungan hidup Indonesia dan Belanda.


I&P Indonesia dan Ikaned Bahas Solusi dan Tantangan Krisis Iklim di RI dan Belanda
Ilustrasi (BIRDLIFE.COM)

AKURAT.CO Asosiasi Intelektual dan Profesional Indonesia (I&P Indonesia) di Belanda dan IKANED (Ikatan Keluarga dan alumni Nederland) bekerja sama dengan NL Alumni Network Indonesia – Nuffic Neso Indonesia, sukses menggelar diskusi interaktif secara virtual (webinar) dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environmental Day) pada 5 Juni 2021. Webinar yang dilaksanakan melalui platform Zoom Cloud Meeting ini mengusung tema "Krisis Iklim dan Peluang Solusi: Tantangan di Indonesia dan Belanda".

Ketua I&P Indonesia Rosalyn Siburian sebagai penyelenggara acara menyatakan, program ini dipersembahkan bagi masyarakat umum, aktivis dan pemerhati lingkungan hidup Indonesia dan Belanda yang tengah memeringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

“Webinar yang dilaksanakan selama kurang lebih 2 jam ini mendiskusikan beberapa pembahasan strategis, diantaranya: Pertama, kondisi terkini krisis iklim Indonesia dan dunia. Kedua, bagaimana masyarakat dapat berpartisipasi aktif. Ketiga, transformasi energi menuju energi alternatif terbarukan di Indonesia. Keempat, pendanaan transisi menuju energi terbarukan,” ungkapnya.

Hadir sebagai pembicara beberapa tokoh penting dari kalangan birokrat, akademisi, dan juga peneliti yang hampir semuanya merupakan alumni dari sejumlah perguruan tinggi di Belanda; diantaranya Prof. Bambang Brodjonegoro, Ph.D, guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, sebagai pembicara utama/keynote speaker; Dr. Barman Tambunan, Kepala Balai Besar Teknologi Konversi Energi (BPPT) dan Presidium IKANED; Dr. Dian Afriyanie, Climate Reality Leader Indonesia; Dr. Abidah Setyowati, Researcher & Policy Advisor TU Delft. Acara ini dimoderatori oleh Dr. Sinar Juliana, dari I&P Indonesia.

Bambang Brodjonegoro mengawali presentasinya dengan mengajak masyarakat Indonesia untuk melakukan perubahan secara masif dan bersama-sama melakukan efisiensi penggunaan sumber daya alam dan lingkungan.

“Apa yang menjadi problem di dunia ini, salah satu yang terbesar adalah over consumption, berlebihan dalam mengonsumsi sesuatu. Terlalu berlebihnya pemakaian kita terhadap sesuatu dari alam, dapat kita lihat sendiri sekarang, dapat menimbulkan ketidakseimbangan di banyak hal,” tegasnya.

Lebih jauh lagi, Bambang juga mengungkapkan bahwasanya mayoritas masyarakat global setuju dan mendukung Green Economy sebagai prioritas dalam pemulihan ekonomi setelah pandemi. Pemanfaatan energi terbarukan dan efisiensi energi akan menciptakan lebih banyak pekerjaan dibandingkan bahan bakar fosil.

Sebanyak 75 jenis pekerjaan dapat diciptakan dari energi terbarukan, 77 jenis pekerjaan dapat diciptakan dari efisiensi energi dibandingkan jika kita menggunakan bahan bakar fosil, hanya ada 27 jenis pekerjaan saja yang tercipta. Ia juga menyebut Belanda sebagai salah satu negara yang cukup berhasil mengembangkan energi terbarukan.

“Di sejumlah negara Eropa, termasuk Belanda, pemakaian energi angin, solar sel dan lain sebagainya sudah sangat masif dan dinilai berhasil. Mudah-mudahan apa yang pernah dilakukan di Belanda berupa upaya membangun energi terbarukan, bisa juga diterapkan di Indonesia. Sehingga meminimalisir penggunaan batu bara dan minyak dimulai dari sekarang,” ujarnya.

Climate Reality Leader Indonesia Dian Afriyanie menyoroti luapan 152 juta ton polusi pemanasan global buatan manusia ke dalam lapisan atmosfer di setiap 24 jam. Solusi krisis iklim menurutnya dikelompokkan menjadi dua yaitu adaptasi dan mitigasi.

“Setiap warga negara dapat berpartisipasi untuk mengatasi krisis iklim. Kuncinya adalah mulai dari diri sendiri dengan menyuarakan pendapat untuk mempengaruhi kebijakan dalam mengatasi krisis iklim di lingkungan terdekat (Pemerintah, Perusahaan, Komunitas),” ungkapnya.

Ia juga menegaskan untuk menggunakan pilihan kita dalam memilih pola konsumsi dan gaya hidup ramah iklim. Contohnya adalah slow living (slow food, slow fashion), mengurangi konsumsi air dan energi (beralih ke energi bersih), memilih produk lokal yang ramah iklim (pangan, tekstil, furnitur), mengurangi limbah, polusi, dan sampah plastik (3R), melindungi dan memperbaiki ekosistem (menanam pohon) serta menggunakan alat transportasi publik.

Materi selanjutnya disampaikan oleh presidium IKANED, Dr. Barman Tambunan. Ia membahas Paris Agreement atau Kesepakatan Paris, Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang bergerak dalam bidang mitigasi emisi gas rumah kaca, adaptasi, dan keuangan.

Kepala Balai Besar Teknologi Konversi Energi (BPPT) ini juga menyebut ada tiga hal penting yang dilaksanakan dalam Kesepakatan Paris dalam konteks Indonesia.

Pertama, memaksimalkan nilai tambah potensi sumber daya Indonesia melalui pembentukan ekosistem industri pembangkit.

Kedua, secara proaktif membentuk pasar dan ekosistem industri EBT. Ketiga, terus membangun kapabilitas dan memperkuat daya saing untuk menjadi perusahaan kelas dunia.

Narasumber terakhir, Dr. Abidah Setyowati, peneliti dan penasihat kebijakan dari TU Delft menjabarkan tentang tantangan dalam transisi energi. Ia menyebutkan bahwa seringkali bukanlah teknologi yang menjadi tantangan kita saat ini, melainkan kebijakan politik. Lantas, apa yang diperlukan untuk mendorong gerakan transformasional untuk merevolusi sistem energi?

Ada tiga hal yang penting dalam hal ini: Pertama, tindakan pemerintah. Kedua, aktivisme akar rumput. Ketiga, koalisi bisnis dan masyarakat sipil yang lebih luas serta partisipasi warga.

“Webinar yang sangat berbobot dan dialogis ini memunculkan banyak gagasan serta inspirasi untuk membangun energi terbarukan dan efisiensi penggunaan sumber daya, agar alam dan lingkungan yang kita tinggali semakin ramah bagi manusia dan seluruh mahluk hidup di muka bumi,” ujar Amien Nurhakim, salah satu peserta webinar. []