Ekonomi

Investasi Uang Kripto Melesat, Regulatornya Tak Kompak

Tren investasi uang kripto berkembang pesat, sayangnya, regulatornya berjalan sendiri-sendiri.


Investasi Uang Kripto Melesat, Regulatornya Tak Kompak
Tips jitu investasi bitcoin (unsplash.com)

AKURAT.CO Tren investasi uang kripto berkembang pesat di tanah air. Porsinya mengalahkan transaksi di pasar saham dan pasar keuangan lainnya. Sayangnya, regulatornya jalan sendiri-sendiri.

Presiden Direktur Center of Banking Crisis (CBC), A Deni Daruri pun mempertanyakan pengawasan dari regulator. Celakanya, regulator pasar keuangan di tanah air, terkesan jalan swndiri terkait pesatnya perdagangan uang kripto alias crypto currency.

Berdasarkan data Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan (Kemendag), kata dia, transaksi aset kripto sepanjang Januari-April 2021 tembus Rp237 triliun. Mengalami lompatan 400% dibanding tahun sebelumnya.

Sementara, perkembangan di tetangga sebelah yakni Bursa Efek Indonesia (BEI), transkasi harian IHSG di periode yang sama berada di kisaran yang jauh lebih rendah, yakni Rp9 triliun hingga Rp 20 triliun.

"Ironisnya, koordinasi dan kerja sama antara regulator keuangan di Indonesia, dalam mengawasi melonjaknya investasi aset kripto, terkesan kendor," kata Deni kepada Akurat.co, Senin (14/6/2021).

Padahal, pengawasannya sangatlah penting. Terutama dalam aspek knowledge sharing industri yang dibawahi dan sentralisasi kebijakan yang konsisten.

"Selain untuk meningkatan perilindungan konsumen dan pemahaman fundamental terhadap produk investasi, para regulator juga memiliki peran besar dalam membuat kebijakan yang dapat bersifat pengawasan dan pencegaha. Tetapi juga masih menyisakkan cukup ruang untuk terus mengembangkan inovasi teknologi di dalam industri aset kripto," papar Deni.

"Karena hal ini dapat berkontribusi positif terhadap daya saing industri keuangan Indonesia dan menciptakan iklim investasi yang kondusif, terutama dalam menghadapi persaingan global di era ekonomi digital," ungkapnya.

Di mata Deni, lembaga pengawas sektor keuangan yakni Otoritas Jasa Keungan (OJK), Bappebti dan Bank Indonesia (BI), terkesan kuat jalan sendiri-sendiri. Ketiganya bahkan memiliki pandangan yang bersebrangan yang mengendepankan kepentingan masing-masing institusi.