News

Interview Ananda Sukarlan: Mengenang Maestro Amir Pasaribu


Interview Ananda Sukarlan: Mengenang Maestro Amir Pasaribu
Ananda Sukarlan mengenakan jaket 01 di Spain

AKURAT.CO, Amir Pasaribu lahir di Siborong-borong, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada 21 Mei 1915. Semasa hidup, dia dikenal sebagai maestro musik Tanah Air.

Amir seorang komponis musik sastra Indonesia pertama yang benar-benar berasal dari Nusantara. Dan dia juga termasuk yang pertama menulis musik bergaya Indonesia.

Pianis dan komponis Ananda Sukarlan salah satu pengagum Amir. Dia pernah menjumpai Amir di Medan, Sumatera Utara, pada 2007.

baca juga:

Bagi Ananda karya-karya Amir memberi keyakinan kepadanya bahwa memang bisa, classical music tercipta dengan material elemen musik etnis Indonesia.

Komponis penting di era 1950-an yang juga pemikir musik itu wafat pada 10 Februari 2010 di Medan. Walau telah tiada, karya-karya Amir tak lekang oleh zaman. Di antara karya-karya monumental Amir adalah The juggler's meeting, Puisi Bagor, Capung Kecimpung di Cikapundung, dan Variasi Sriwijaya.

Menjelang peringatan hari lahir Amir, 21 Mei, saya mewawancarai Ananda melalui aplikasi WhatsApp telepon seluler pada Senin 4 April 2020. Ananda adalah komponis yang disebut-sebut Amir sebagai satu-satunya yang tetap memainkan karya-karyanya di luar negeri.

“Banyak partitur Pak Amir yang sudah hilang, tapi yang masih ada, aslinya disimpan oleh keluarganya (anak dan cucunya) di Belanda. Dari merekalah saya mendapatkan fotokopian semua partitur yang masih ada itu,” kata Ananda.

Untuk lebih lengkap mengetahui sosok Amir, berikut ini hasil wawancara dengan Ananda:

Ananda Sukarlan dan Amir Pasaribu. Dokumentasi Chendra Panatan

Anda pengagum karya-karya Amir Pasaribu. Sejauhmana karya-karya seniman musik sastra ini mempengaruhi Anda?

Pak Amir itu komponis musik sastra Indonesia yang pertama (maksud saya yang benar-benar orang Indonesia, bukan orang Belanda yang zaman kolonial tinggal di Indonesia dan menulis musik yang "bergaya" Indonesia). Mungkin "mempengaruhi" bukan kata yang tepat, tapi musiknya memberi keyakinan saya bahwa memang bisa, "classical music" tercipta dengan material elemen musik etnis Indonesia.

Anda pernah bertemu dengan beliau di Medan semasa beliau masih hidup. Boleh diceritakan awal mula anda bisa ketemu?

Suatu hari di tahun 2007 datang satu e-mail dari seseorang bernama Nurman Pasaribu yang ditujukan ke saya. Sungguh suatu surprise! Ternyata Beliau adalah putra dari komponis yang selama ini karya-karyanya saya kagumi dan sering dimainkan, tetapi saya selalu mengira Beliau sudah meninggal (Amir Pasaribu lahir pada tahun 1915). Nurman sendiri telah berkeluarga dan tinggal di Belanda.

Kebetulan, beberapa bulan setelah saya terima email itu saya diundang ke Medan untuk memberi masterclasses dan seminar di Medan Musik. Nurman langsung menganjurkan saya untuk menyempatkan diri berkunjung ke rumah Amir Pasaribu.

"Datang saja," kata Nurman lewat telpon, "Tidak usah telpon dulu. Pappie (sebutannya untuk ayahnya) sudah di kursi roda, dan tidak pernah kemana-mana, dan pasti senang dikunjungi Ananda. Beliau sering menyebut nama anda." Ternyata, pernah ada satu artikel di satu harian di Indonesia yang menyebutkan bahwa saya adalah satu-satunya pianis Indonesia yang tetap memainkan karya-karyanya di luar negeri. Apa itu benar, saya sendiri tidak tahu.

Dari Ibu Latifah Kodijat, seorang pengajar senior di Jakarta, sejak saya berkarir sebagai pianis setelah lulus kuliah di Den Haag, saya mendapatkan banyak partitur dari Amir Pasaribu. Dua sonata untuk piano (yang no. 2 hanya bagian pertamanya saja yang partiturnya saya miliki), karya-karya kecil lainnya seperti The juggler's meeting, Puisi Bagor, Capung Kecimpung di Cikapundung dan Variasi Sriwijaya. Dari karya-karya tersebut, ada sekitar lima karya yang saya terus mainkan di berbagai penjuru dunia, sedangkan yang lainnya tersimpan di perpustakaan saya karena banyak not-not yang salah kutip ataupun meragukan.

Apakah setelah itu intens ketemu lagi dengan beliau untuk membicarakan perkembangan musik?

Itu pertemuan saya pertama dan terakhir.

Bagaimana reaksi beliau ketika pertamakali ketemu dengan Anda?

Jadilah satu hari Minggu pagi, setelah saya tiba di Medan hari sebelumnya, saya bersama teman dan manager saya, Chendra, naik taksi dari hotel menuju ke Karya Wisata, alamat yang kami dapat dari Nurman. Rencananya kami hanya akan sebentar saja. Setelah agak berputar-putar Medan dan bertanya-tanya (saya sebenarnya cukup kaget karena orang Medan, termasuk para siswa-siswi musik, tidak mengenal namanya.

Itulah nasib seorang seniman musik sastra di Indonesia!). Akhirnya kami tiba, dan mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Ketuk lagi. Sama saja. .... "Tuh, mungkin sedang ke gereja," kata Chendra. Saya tidak menyerah. Mengetuk lagi. Tidak ada reaksi. Kami kemudian berputar, ingin bertanya ke tetangga apa benar ini rumah Amir Pasaribu. Ketika kami sampai di pintu gerbang, tiba-tiba pintu rumah bergoyang-goyang. Tapi tidak terbuka!

Situasi ini mungkin hanya memakan waktu satu menit, tapi rasanya lama sekali karena kami bingung, kok surealis banget! Akhirnya, pintu terbuka, dan kami jadi mengerti kenapa hal itu terjadi. Muncul seseorang tua di kursi roda, memakai kaos oblong putih dan sarung. Langsung saya datangi. "Pak Amir Pasaribu?" "Siapa anda?" teriaknya. "Saya Ananda Sukarlan, Pak." "Siapaaa?" "Ananda Sukarlan, seorang pianis, Pak.""Siapaaa?" Membaca situasi lebih cepat dari saya, Chendra mendekati telinganya, dan berteriak "Ananda Sukarlan Pak, pianis yang tinggal di Spanyol!""Ooooooh!" Kegembiraan terpancar di wajahnya yang tadinya kelihatan galak. Beliau langsung menyodorkan tangannya untuk bersalaman. "Ik ken jouw naam (saya tahu nama anda)!" dan setelah Chendra memperkenalkan dirinya juga, kami duduk dan mengobrol di teras.

Apa kesan-kesan Anda tentang Amir Pasaribu dalam pertemuan itu?

Terus terang, saya selalu grogi bertemu dengan orang baru, apalagi ini seseorang yang saya selalu kagumi, senior, dan notabene sudah tuli. Saya membayangkan menit-menit keheningan pasti akan terjadi, di mana saya tidak tahu harus omong apa. Ternyata, Pak Amir orangnya banyak bicara, dan antusias sekali. Beliau lebih fasih berbahasa Belanda, jadi akhirnya percakapan berganti bahasa. Chendra yang tidak mengerti satu kata pun jadi gelisah, dan akhirnya mengambil kamera. Ceklak, ceklek ... Daripada nganggur dan tidak mengerti!

Sambil mendengarkannya berbicara, saya mengamati fisiknya. Luar biasa sekali orang ini. Umurnya 92 tahun, karakternya yang kuat masih bersinar di wajahnya. Yang menarik perhatian saya adalah telinganya yang besar, yang mengingatkan saya ke komik Tintin tentang patung-patung bertelinga panjang di Pulau Paskah. Masih ada sangat sedikit rambut putih dipotong pendek sekali walaupun sebagian besar sudah botak, dan sudah ompong. Kelihatan sekali bahwa Pak Amir adalah orang yang tidak doyan berkompromi, keras dan punya pendapat yang kokoh dan sulit dibengkokkan tentang banyak hal.

Apakah Amir juga mengenal karya-karya Anda?

Tidak, karena seperti saya bilang, beliau tuli sejak lama. Tapi beliau tahu saya memainkan karya-karyanya di banyak konser saya.

Apakah karya-karya Amir Pasaribu anda mainkan dalam konser-konser dunia?

Iya, dan saya jadi merekam CD pertama yang secara lengkap memainkan karya-karya beliau untuk piano solo, "The Piano Music of Amir Pasaribu."

Apakah Pak Amir pernah mendengarkan rekaman permainan musik Anda sebelum beliau wafat?

Iya, ini epic banget, ada fotonya beliau menyalakan CD playernya dengan sangat keras dan telinganya menempel di loudspeakernya, difoto oleh cucunya, Gonny Pasaribu.

Amir Pasaribu. Dokumentasi Gonny Pasaribu

Saya pingin cerita: Banyak partitur Pak Amir yang sudah hilang, tapi yang masih ada, aslinya disimpan oleh keluarganya (anak dan cucunya) di Belanda. Dari merekalah saya mendapatkan fotokopian semua partitur yang masih ada itu.

Masalahnya, ada beberapa (sekitar tiga atau empat) partitur yang ditulis ulang (diketik dengan komputer) oleh banyak orang, tapi tidak akurat. Memang tulisan tangannya kadang-kadang tidak begitu rapih, saya tahu itu karena seringkali otak lebih cepat daripada gerakan tangan menulis! Jadi untuk para pianis yang ingin memainkan karyanya, saya minta untuk menganalisa secara cermat, karena kalau kita cermat, kita bisa kok mendeteksi not-not yang salah tulis di partitur itu.

Sering saya mendapatkan pianis memainkan karyanya (misalnya di kompetisi Ananda Sukarlan Award sejak 2008 selalu ada yang memainkannya), dan banyak salahnya, ternyata pianis itu "yang penting patuh dengan apa yang ditulis di partitur." Yang kritis dong! Musiknya Pak Amir itu sebetulnya gamblang dan jelas kok, dan karakteristiknya kuat.

Apakah generasi muda mengenal Pak Amir seorang seniman musik sastra juga karya-karyanya?

Nah, ini dia, sudah tidak. Makanya saya selalu menekankan, kenalilah hasil karya seni kita sendiri. Nggak ada gunanya tuh bisa main Mozart, Rachmaninov dan lain-lain, tapi karya anak negeri sendiri tidak mengenalinya. Dimana identitas kita sebagai seorang seniman?

Dua minggu lagi peringatan ultah almarhum Amir, apa rencana Anda?

Terus terang, nggak ada! Ini kan masih periode PSBB, yang juga berarti Pekerja Seni Babak Belur haha ... tapi, buat para musikus klasik, coba deh Google  tokoh besar dan pelopor ini, haruslah kalian tahu tentangnya!

O ya, saya juga dapat beberapa partitur dari Ibu Charlotte Sutisno, pianis yang kerap memainkan karya Amir pada 1960-an.

Charlotte juga meninggalkan warisan berharga berupa rekaman permainan pianonya saat mementaskan karya Amir di Radio Republik Indonesia. Arsip yang bunyinya sudah kresek-kresek ini sangat berguna dalam mempelajari gaya musik Amir dan hal-hal lain yang tidak bisa tertulis dalam partitur, serta menjelaskan not-not yang kurang jelas di tulisan tangan beliau.

Arsip rekaman itu kini disimpan Nurman di Belanda. Gonny Pasaribu, putri Nurman, juga mengumpulkan partitur-partitur kakeknya yang pernah dimuat di majalah Zenith sampai Pujangga Baru. Ia datang ke Jakarta, mencari majalah-majalah tersebut di perpustakaan H. B. Jassin.

Apa penilaian Anda terhadap perkembangan karya komponis-komponis muda sekarang?

Komponis muda sekarang itu lebih bikin musik untuk jingles iklan, background music untuk film dan sinetron. Tuntutannya harus bikin cepat kelar, dan mereka kurang menyediakan waktu untuk perbaikan artistik sih.

Apa saja tantangan mengembangkan ide-ide segar para komponis muda di Indonesia?

Ide segar itu sebetulnya banyak, elemen etnis kita sangat kaya, itu ibarat bahan mentah yg harus diolah. Tapi ya itu butuh waktu dan pemikiran yang mendalam, dan sayangnya industri tidak memberikan itu.

Apakah di negeri ini kreativitas para komponis muda dihargai?

Komponis muda sih dihargai, tapi sebetulnya yang mereka butuhkan adalah sabbatical periods, dimana mereka bisa introspeksi memikirkan nilai artistik mereka. Bukan kerjaan yang menumpuk dengan dikejar deadline. Nah, sabbaticals itu seperti periode lockdown Covid 19 sekarang ini.

Tapi ya butuh bantuan finansial ya. Tiga bulan dalam setahun gitu deh, dimana mereka bisa merenung, berpikir, bekerja dengan tuntutan artistik yang tinggi tanpa dikejar deadline

Apa saja yang dibutuhkan untuk menjadi komponis profesional?

Butuh orang seperti Pak Habibie, misalnya, yang mengerti itu, dan mau mendengar kebutuhan para seniman. Kalau pak Habibie minta saya bikin musik, beliau kasih waktu sekitar enam bulan. Karena beliau butuh musik yang berkualitas, untuk bisa mewakili RI di dunia musik internasional. []

0 Comments

Leave a comment

Sorry, you mush first