Ekonomi

Integrasi Transportasi Jabodetabek, MRT Peroleh Dana PEN Rp1,7 Triliun

Integrasi Transportasi Jabodetabek, MRT Peroleh Dana PEN Rp1,7 Triliun
Penumpang menaiki kereta Moda Raya Terpadu (MRT) di Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta, Minggu (16/2/2020). Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menyatakan penggunaan transportasi umum di wilayah Jabodetabek, khususnya di Jakarta belum maksimal. Dari keseluruhan penduduk ibu kota, hanya 32 persen warga yang menggunakan transportasi publik. (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, PT MRT Jakarta (Perseroda) memperoleh dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dari PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) sebesar Rp1,7 triliun untuk melakukan integrasi transportasi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).

"Dananya itu untuk mendorong inisiatif integrasi transportasi Jabodetabek. Jadi MRT Jakarta mendapatkan penugasan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bertanggung jawab dan melakukan aksi korporasi bersama dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) terkait pengintegrasian pengelolaan transportasi di Jabodetabek," ujar Direktur Utama MRT William Sabandar dalam diskusi virtual di Jakarta, Kamis (10/12/2020).

PEN yang diberika untuk MRT Jakarta itu bukan berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) namun berasal dari korporasi.

Dana itu, lanjut William, nantinya akan digunakan oleh MRT Jakarta untuk membeli sebanyak 51 persen saham PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) sehingga mempermudah proses integrasi transportasi di Jabodetabek.

baca juga:


Sebanyak 51 persen saham yang dibeli MRT Jakarta itu nantinya akan dikelola oleh PT Moda Integrasi Transportasi Jabodetabek (MITJ) yang merupakan perusahaan patungan milik MRT Jakarta dan KAI.

William mengatakan untuk proses pembelian saham PT KCI, pihaknya telah melakukan pengecekan nilai aset dengan mempercayakan hal itu pada pihak ketiga yaitu pada Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

"Kita buat pagu anggarannya Rp1,7 triliun karena angkanya bisa berubah-ubah (nilai aset). Bisa Rp1,2 triliun atau Rp1,4 triliun. Ya kita harapkan pengecekan nilai aset ini selesai di Desember 2020," kata William.

Jika nantinya ada dana yang tersisa dari total Rp1,7 triliun itu, William mengatakan pihaknya akan berkoordinasi lebih lanjut dengan PT SMI.

"Kalau misalnya dananya ada lebih, tentu kita koordinasikan lagi dengan PT SMI, Pemprov DKI dan DPRD untuk diambil langkah seperti apa. Tidak direalisasikan atau direalisasikan dalam program lain yang sifatnya untuk integrasi," ujar William.

Seperti diketahui, pada pertengahan 2020 PT MRT Jakarta bersama PT KAI membentuk perusahaan patungan bernama PT MITJ yang memiliki tujuan untuk mengelola integrasi transportasi di kawasan Jabodetabek.[]

Sumber: ANTARA