Lifestyle

Inovasi Sorbact Cegah Resistansi Anti Mikroba (AMR) untuk Perawatan Luka

Inovasi Sorbact Cegah Resistansi Anti Mikroba (AMR) untuk Perawatan Luka
Zoom Inovasi Sorbact Mencegah Resistansi Anti Mikroba (AMR) (Dokumen Akuratco)

AKURAT.CO, Dalam memperingati Annual World AMR Awareness Week 2022, Essity Indonesia sebagai perusahaan global di bidang hygiene dan health turut mendukung upaya dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terkait AMR (Resistansi Anti Mikroba).

Dalam zoom yang dilakukan pada 29 November 2022 yang diikuti oleh Akurat.co, Essity melalui keahliannya di bidang perawatan luka berkomitmen mencegah AMR melalui Cutimed dan Leukoplast dengan inovasi teknologi terkini yaitu Sorbact.

Sorbact telah diuji secara klinis dan terbukti efektif serta efisien dalam mempercepat kesembuhan luka pasien dan mengurangi beban biaya perawatan.

baca juga:

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa AMR adalah salah satu dari sepuluh ancaman kesehatan masyarakat di dunia, terutama di negara berkembang dan dapat menjadi penyebab 10 juta kematian per tahunnya di seluruh dunia pada tahun 2050.

“Kita tidak bisa menunggu. Masalah AMR perlu menjadi perhatian utama dan penting selain pandemi Covid-19. Hasil survei Global Hygiene & Health Essity tahun 2022 terhadap lebih dari 15.000 orang di 15 negara di seluruh dunia menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat terkait bahaya AMR masih rendah. Untuk itu Essity terus mendukung adanya kolaborasi untuk mencegah dan menurunkan AMR” ungkap Gustavo Vega, Direktur Komersial Essity Indonesia.

“Essity berkomitmen untuk mendobrak hambatan terkait perawatan kesehatan melalui keahlian kami di bidang perawatan luka (wound care) dengan menghadirkan inovasi teknologi Sorbact® yang inovatif dan efektif mencegah AMR pada perawatan luka sebagai salah satu ancaman kesehatan masyarakat di dunia saat ini, termasuk di Indonesia” imbuhnya.

Bank Dunia (World Bank) menunjukkan AMR akan meningkatkan kemiskinan dan berdampak terutama pada negara berpenghasilan rendah dibandingkan dengan negara lain di dunia. Studi menunjukkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) global tahunan dapat turun sekitar 1% dan menimbulkan kerugian 5-7% di negara-negara berkembang pada tahun 2050.

“Resistansi antimikroba (AMR) terjadi ketika bakteri, virus, jamur, dan parasit berubah dari waktu ke waktu dan tidak lagi merespons obat-obatan sehingga membuat infeksi lebih sulit diobati dan meningkatkan risiko penyebaran penyakit hingga kematian.

Secara global, gerakan pengendalian AMR sudah berjalan, salah satunya dengan usaha penerapan Antimirobial Stewardship (AMS)” jelas Dokter Harry Parathon, Ketua Pusat Resistansi Antimikroba Indonesia.