Ekonomi

Ini Upaya OJK Capai Implementasi Keuangan Berkelanjutan

Diperlukan perubahan pola pikir bahwa faktor risiko lingkungan hidup dan sosial merupakan peluang sekaligus tantangan bagi sektor jasa keuangan


Ini Upaya OJK Capai Implementasi Keuangan Berkelanjutan
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terpilih Wimboh Santoso (kiri). (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww/17.)

AKURAT.CO Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengungkapkan upaya untuk mencapai komitmen dan implementasi keuangan berkelanjutan.

Menurutnya, diperlukan perubahan pola pikir bahwa faktor risiko lingkungan hidup dan sosial merupakan peluang sekaligus tantangan bagi sektor jasa keuangan untuk dapat menciptakan pembiayaan inovatif dan sekaligus melakukan transisi dari business as usual ke pendekatan sustainability business.

“Dalam hal ini, peran OJK menjadi sangat penting dan strategis untuk mempercepat implementasi keuangan berkelanjutan, sejalan dengan usaha menjaga kestabilan ekonomi dan keuangan dari dampak pandemi Covid-19,” katanya dalam webinar, Selasa (15/6/2021).

Wimboh memaparkan berbagai regulasi yang telah diterbitkan OJK untuk mendukung implementasi keuangan berkelanjutan termasuk diantaranya POJK No. 51/POJK.03/2017 mengenai penerapan keuangan berkelanjutan untuk Lembaga Jasa Keuangan (LJK), emiten dan perusahaan publik, serta POJK No. 60/POJK.04/2017 dan KDK No. 24/KDK.01/2018 mengenai penerbitan green bond.

Di sisi lain, stakeholder juga telah merespon kebijakan-kebijakan OJK dalam bidang keuangan berkelanjutan antara lain implementasi pembiayaan berkelanjutan di 8 bank peserta pilot project first movers, yang dilanjutkan dengan bergabungnya 5 bank lain.

“Penyaluran portofolio hijau pada perbankan sekitar Rp809,75 triliun. Penerbitan green bonds PT Sarana Multi Infrastruktur sebesar Rp500 miliar. Peningkatan nilai indeks SRI - Kehati sehingga saat ini telah memiliki dana kelolaan sebesar Rp2,5 triliun," kata Wimboh.

Lalu, penerbitan ESG leaders index oleh Bursa Efek Indonesia untuk mewadahi permintaan yang tinggi atas reksadana dan ETF bertema ESG.

Selain itu, OJK juga telah mengeluarkan insentif untuk mendukung kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBL BB) melalui pengecualian BMPK dalam proyek produksi KBL BB, serta keringanan penghitungan ATMR dan penilaian kualitas kredit dalam pembelian KBL BB oleh konsumen.

Ke depan, kata Wimboh, OJK telah mengidentifikasi beberapa program dan menjadikan keuangan berkelanjutan sebagai salah satu inisiatif strategis OJK, antara lain, pertama penyusunan taksonomi sektor hijau, yang dapat dijadikan panduan untuk mengembangkan inovasi produk dan/atau jasa keuangan berkelanjutan, Pengembangan insentif dan disinsentif keuangan berkelanjutan.

Kedua, peningkatan capacity building bagi internal maupun eksternal (LJK), dan Pengembang strategi komunikasi keuangan berkelanjutan.

“Kami optimis bahwa melalui koordinasi yang baik dalam penyusunan kebijakan dan regulasi, serta kerja sama dan komitmen yang tinggi dari seluruh pihak yang terkait, maka keuangan berkelanjutan di Indonesia akan dapat diterapkan dengan optimal untuk mencapai tujuan global yang telah ditetapkan dalam Paris Agreement dan 17 tujuan SDG,” tambahnya. []