Lifestyle

Prof Tjandra: 3 Hal yang Dilakukan Saat Temukan Varian Lokal Covid-19 di Surabaya

Adanya isu dugaan varian lokal di Surabaya, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO bagikan cara identifikasi varian lokal di Surabaya


Prof Tjandra: 3 Hal yang Dilakukan Saat Temukan Varian Lokal Covid-19 di Surabaya
Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI sekaligus Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara yakni Prof Tjandra Yoga Aditama. (yarsi.ac.id)

AKURAT.CO Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur Erwin Astha Triyono membenarkan temuan tujuh kasus baru Covid-19 varian Omicron. Tujuh pasien tersebut merupakan hasil pemeriksaan sampel Whole Genome Sequencing (WGS).  

Dari 18 total sampel yang dikirimkan ke Institute of Tropical Disease (ITD) Universitas Airlangga (Unair), Erwin mengungkapkan lima orang asal Surabaya yakni TGO (4), FP (32), AR (4), QIZ (2), FI (61).

Lalu, satu orang berasal dari kota Malang, yaitu MA (40) dan satu orang berasal dari kabupaten Malang yaitu LI (29), dinyatakan positif Covid-19. 

baca juga:

"Dari delapan pasien yang terkonfirmasi positif Omicron, tiga orang sudah dinyatakan sembuh berdasarkan dua kali hasil PCR negatif. Sehingga saat ini tinggal lima orang yang masih positif Omicron," ujar Erwin kepada wartawan, dikutip pada Selasa (18/01).

Dari jumlah tersebut, imbuh Erwin, satu orang sedang menjalani perawatan di tempat isolasi terpusat dan empat orang lainnya melakukan isolasi mandiri dengan telemedicine. 

"Seluruh pasien hanya mengalami gejala ringan atau tanpa gejala," ucapnya.  

Melihat fenomena semakin meningkatnya jumlah orang terkonfrimasi terpapar Covid-19 varian Omicron dan adanya isu dugaan varian lokal di Surabaya, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara yakni Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan bahwa ada dua cara untuk menentukan terjadinya transmi varian Omicron lokal di Surabaya.  

"Sehubungan berita beberapa media tentang kemungkinan varian lokal di Surabaya, di tengah meningkatnya jumlah terpapar Omicron, maka ada dua langkah yang dapat dilakukan yaitu klarifikasi dan memastikan apakah memang benar-benar ada varian lokal penting di Surabaya, supaya jelas dan pasti dulu informasinya," kata Tjandra, melalui keterangan tertulisnya.

"Kalau tidak ada varian lokal baru yang signifikan. maka persoalan selesai," sambungnya.