Ekonomi

Ini Tiga Alasan Trump Terus Kobarkan Perang Dagang


Ini Tiga Alasan Trump Terus Kobarkan Perang Dagang
Presiden AS Donald Trump dalam rapat pembahasan infrastruktur dengan kongres, 14 Februari 2018. (REUTERS)

AKURAT.CO, Perang dagang yang dilancarkan Donald Trump merupakan salah satu ancaman terhadap pertumbuhan global. Tarif dan berbagai kebijakan untuk menghindari tarif semakin menjelaskan bahwa perang dagang tidak akan menghasilkan kemenangan bagi pihak manapun. 

Meski begitu, Donald Trump tidak menunjukkan tanda-tanda untuk mundur dari keputusannya? Dilansir dari laman MarketWatch, berikut adalah tiga faktor yang membuat Trump tetap mengobarkan perang dagang :

Pertama, Pemerintahan Trump mewarisi perekonomian yang kuat dan tingkat pengangguran yang rendah.

Ketika Trump mulai menjabat pada tahun 2017, ekonomi Amerika Serikat (AS) dalam keadaan kuat dan penerimaan pekerja mencapai 200.000 per bulan. Keadaan semakin baik dimana Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga secara bertahap. Ada kemungkinan bahwa pemerintah sengaja menggunakan tarif, yang bertindak sebagai ekuivalen dari kenaikan pajak dalam negeri, sebagai cara untuk mengurangi konsumsi dan permintaan agregat.

Kedua, tarif dan tindakan balasan oleh negara lain memiliki dampak politik domestik yang terbatas bagi AS.

baca juga:

Tarif pembalasan yang diberlakukan oleh Uni Eropa, Cina, dan Kanada dirancang untuk memiliki dampak signifikan di negara-negara yang mendukung Trump dalam pemilu 2016. Tetapi pelaksanaannya bertahap, banyak sektor membutuhkan waktu untuk menyesuaikan keadaan, dan banyaknya lapangan kerja yang hilang akibat tarif akan berakibat bagi perolehan suara partai Republikan di masa depan. Presiden menggunakan tindakan balasan sebagai pembenaran lebih lanjut dari kebijakannya.

Ketiga, Dolar terus menguat. Dampak dari pemberlakuan tarif sendiri diredam oleh nilai dolar AS yang semakin menguat. yang mendukung daya beli global konsumen dan manufaktur Amerika bahkan ketika daftar barang yang terkena pemberlakuan tarif terus bertambah.


Strategi Perdagangan Trump

Sejauh ini gambaran terhadap strategi perdagangan Donald Trump dapat dikatakan strategi dua arah. Pertama, pemerintahan Trump terus menyajikan kepada publik ancaman-ancaman yang dihadapi oleh perekonomian Amerika Serikat. Namun, di saat yang bersamaan pemerintahan Trump melalui orang-orang pilihannya juga melakukan negosiasi kepada lawan-lawannya. Pihak lawan seakan dipaksa memberikan respon atas langkah Trump.

Pemerintahan Trump terlihat terbuka untuk negosiasi bilateral dan selama dua bulan terakhir sangat jelas bahwa mereka memprioritaskan negosiasi dagang mereka dengan Cina.

Mengingat kekhawatiran yang sudah berlangsung lama tentang praktik perdagangan Tiongkok, dan ancaman signifikan dari eskalasi perang dagang lebih lanjut, Amerika Serikat mungkin dapat memenuhi konsesi dari pemerintah Cina yang dapat ditampilkan sebagai "kemenangan" secara politis.

Sedangkan sekutu historisnya sendiri yaitu Eropa ditempatkan Trump sebagai urutan terakhir dalam skala prioritas. Hal ini terlihat dari pernyataan-pernyataan yang disampaikan dimana Trump menggunakan argumen "keamanan nasional: untuk memberlakukan tarif baja, serta mengungkit tentang perjanjian nuklir Iran yang peda akhirnya menempatkan Eropa dalam posisi sulit terkait hubungan mereka dengan Iran.[]