News

Ini Syarat Jamaah Umrah Indonesia Masuk Arab Saudi

Isu vaksin Sinovac dan Sinopharm rupanya masih menyisakan persoalan bagi calon jemaah umrah yang hendak berangkat ke Arab Saudi.


Ini Syarat Jamaah Umrah Indonesia Masuk Arab Saudi
Eko Hartono (Tangkapan layar YouTube KCP-PEN)

AKURAT.CO, Isu vaksin Sinovac dan Sinopharm rupanya masih menyisakan persoalan bagi calon jemaah umrah yang hendak berangkat ke Arab Saudi. Pasalnya, Pemerintah Kerajaan Arab Saudi dikabarkan mensyaratkan suntikan booster bagi para calon jemaah haji asal Indonesia yang telah disuntik vaksin Sinovac dan Sinopharm sebelumnya. 

Suntikan booster itu wajib menggunakan salah satu dari empat jenis vaksin yang digunakan Arab Saudi, yakni Pfizer, Moderna, Astrazenecca, atau Jhonson and Jhonson. 

"Jadi itu jelas sampai saat ini pihak Saudi mengatakan bahwa bagi jemaah asing yang memperoleh vaksin yang empat yang dipakai oleh Saudi, maka bisa langsung menjalankan ibadah umrah," kata Konsul Jenderal RI (KJRI) di Jeddah, Eko Hatono dalam webinar yang diselenggarakan KCP-PEN, Kamis (22/10/2022). 

"Yang kedua, bagi jemaah asing yang divaksin dengan vaksin di luar empat jenis vaksin yang dipakai oleh Saudi, terutama Sinovac dan Sinopharm maka yang bersangkutan harus memperoleh booster minimal satu kali dari empat vaksin yang dipakai oleh Saudi," imbuhnya. 

Dia mengungkapkan, memang Pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah mengakui vaksin Sinovac dan Sinopharm sebagai vaksin Covid-19. Pengakuan itu diumumkan setelah kedua vaksin tadi diakui badan kesehatan dunia atau WHO.

"Setelah WHO mengakui dua vaksin lagi yaitu Sinovac dan Sinopharm maka kemudian Arab Saudi juga mengakui sebagai vaksin yang diakui, tapi tidak dipakai oleh Saudi. Nah ini yang harus dibedakan bahwa antara yang dipakai dengan yang diakui beda. Supaya nggak bingung kita," ungkapnya. 

Jadi, kata dia, sampai ada kesepakatan ataupun aturan lanjutan dari Pemerintah Kerajaan Arab Saudi terhadap isu vaksin, calon jemaah umrah belum bisa masuk ke Tanah Suci. Namun, dia juga mengaku tidak mengetahui persis kapan kesepakatan dan keputusan itu terwujud. Menurut dia, diplomasi dan dinamika bergerak dinamis. 

"Jadi sampai nanti ada kesepakatan, sampai ada pengaturan mengenai booster dan mengenai vaksin ini, maka jemaah asing belum bisa masuk," ungkapnya.[]