Olahraga

Ini Kisah Perjalanan Berbahaya Timnas Putri Afghanistan Menghindari Taliban

Tim Nasional Sepakbola Putri Afghanistan meninggalkan negaranya dalam misi berbahaya setelah Afghanistan mengambil alih pemerintahan pada Agustus 2021.


Ini Kisah Perjalanan Berbahaya Timnas Putri Afghanistan Menghindari Taliban
Tim Nasional Putri Afghanistan pada pertandingan pertama di Melbourne, Australia, April silam. Mereka meninggalkan Afghanistan sejurus setelah Taliban menguasai negara tersebut pada Agustus 2021. (TWITTER/Sacha Pisani)

AKURAT.CO, Ketika Taliban mengambilalih pemerintahan Afghanistan pada Agustus 2021, Fati–bukan nama sebenarnya–melihat “kegelapan” tentang masa depannya sebagai pesepakbola putri. Fati adalah satu dari anggota Tim Nasional Putri Afghanistan dengan kemampuan Bahasa Inggris yang cukup mumpuni.

“Saya menerima bahwa Afghanistan sudah berakhir,” kata Fati sebagaimana dipetik dari BBC.

Cahaya harapan kemudian datang berkat inisiatif eks pasukan angkatan laut Amerika Serikat yang juga mantan kiper Houston Dash di Liga Sepakbola Putri AS, Haley Carter. Haley merancang evakuasi untuk pemain Timnas Putri Afghanistan dengan pesawat Angkatan Laut AS di periode kekacauan ketika Taliban kembali.

baca juga:

Dengan bantuan mantan Kapten Timnas Afghanistan yang hidup secara eksil di Denmark sejak 2011, Khalida Popal, Carter melakukan komunikasi yang tricky nan berbahaya melalui telepon genggam terhadap Fati dan rekan setimnya.

Mereka harus melakukan rotasi menggunakan telepon genggam untuk menjaga baterai tetap terisi di antara mereka. Sementara Popal telah mengingatkan untuk menghapus semua identitas mereka seperti akun media soal, membakar jersey dan atribut sepakbola, serta hanya membawa satu tas setiap orang.

“Kami tidak bisa menjamin bahwa kami bisa memastikan kalian bakal masuk ke bandar udara. Tetapi jika kalian berusaha, kalian bakal bertahan,” kata Fati menceritakan pesan Popal kepada ia dan teman-temannya.

Sampai pada hari yang sudah dinantikan, Fati dan timnya diminta menemui tentara marinir AS di gerbang utara Bandar Udara Kabul di ibukota Afghanistan dengan menyebut kata sandi yang sudah dipesankannya. Sayangnya, tentara yang dituju tak mengenal Fati dan kata sandi yang diucapkannya tak berlaku.

“Saya berusaha menunjukkan kode tetapi tentara tersebut menolak dan bilang, ‘tim nasional apa? Siapa kamu?’ Dia bilang, ‘kalau kalian punya paspor AS kami bakal mengizinkan kalian masuk tetapi tak ada pilihan lain’,” kata Fati.

Dalam keadaan putus asa, Fati dan teman-temannya bergerak ke gerbang selatan di mana ada beberapa pos pemeriksaan Taliban. Teringat ucapan Popal untuk “tetap berusaha”, Fati dan rekan-rekannya berlari ke arah beberapa tentara Australia tetap di gerbang selatan.

“Kami melihat tentara Australia dan meneriakkan kalimat seperti, ‘pemain tim nasional’, ‘Australia’, dan ‘sepakbola’,” kata Fati. “Mereka melihat dokumen kami dan membiarkan kami lewat.”

Di Australia, Fati baru bertemu dengan Carter pada April lalu. Di negara tersebut mereka juga sudah menjalani pertandingan pertama di bawah kepelatihan eks pemain Tim Nasional Wales, Jeff Hopkins. Pertandingan melawan tim lokal itu berakhir dengan skor 0-0.[]