Rahmah

Ini Kata Quraish Shihab soal Perbedaan Maulid dan Maulud

Ini Kata Quraish Shihab soal Perbedaan Maulid dan Maulud
Cendekiawan muslim Quraish Shihab (pinterest.com)

AKURAT.CO Umat Islam biasanya memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW sejak masuknya Bulan Rabiul Awal hingga berakhirnya bulan tersebut. Orang Islam banyak yang menyebut jika Bulan Rabiul Awal merupakan Bulan Maulid atau Bulan Maulud.

Lantas apakah arti dari kata Maulid dan Maulud itu sendiri? Apakah bermakna sama atau memiliki arti yang berbeda?

Ahli Tafsir Prof Quraish Shihab mengatakan bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan Nabi Muhammad SAW dinamakan dengan Sirah. Atau bisa diartikan secara sederhana Sirah adalah perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW.

baca juga:

"Jadi perjalanan hidup Nabi ini mulai beliau lahir sampai wafat. Itu Sirah," ujarnya dalam video yang diunggah melalui channel YouTube Quraish Shihab, Rabu (28/10/2020).

Prof Quraish kemudian menjelaskan kata Maulud yang berarti sebagai uraian yang menyangkut perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW yang tekanannya pada sosoknya. Sedangkan Maulid merupakan informasi-informasi yang diterima berkaitan dengan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW.

Pendiri Pusat Studi Qur'an itu menguraikan pendapat sejarawan yang pernah berkata "Kalau anda bisa menangkap, bisa membayangkan sejarah dalam benak anda, maka anda telah menambahkan usia melebihi usia anda". Karena orang-orang yang merasa seakan hidup pada masa lampau, adalah karena mereka mengetahui sejarahnya.

Prof Quraish menambahkan bahwa tujuan dari mempelajari sejarah adalah untuk menggali apa yang terdapat dibalik sejarah itu. Karena di dalam Al-Qur'an sendiri hampir tidak berbicara tentang tempat, sosok tetapi yang dibicarakan adalah peristiwa.

"Siapa itu Ashabul Kahfi, disebut tidak namanya, tanggal berapa itu, tidak ada tanggalnya, tidak ada waktunya," tutur Pengasuh Pondok Pesantren Bayt Al-Quran, Pondok Cabe, Tangerang Selatan tersebut.

Menurut Prof Quraish, mempelajari Sirah Nabi Muhammad itu seperti membakar kayu. Ada sebuah kayu yang kita bakar, asapnya dapat menyesakkan hidung kita. Sedangkan ada kayu yang kita bakar, aromanya sangat harum.

"Kalau anda bicara tokoh lain, bisa jadi menyesakkan, tetapi kalau kita bicara tentang Nabi Muhammad SAW, itu aromanya sangat harum," jelas alumnus doktoral Universitas Al-Azhar Kairo Mesir itu.[]