News

Ini Instruksi Jokowi Soal Pengelolaan Limbah B3 Medis Covid-19 yang Kian Menggunung

Jokowi menginstruksikan jajarannya agar pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (Limbah B3) medis Covid-19 dilakukan secara intensif dan sistematis.


Ini Instruksi Jokowi Soal Pengelolaan Limbah B3 Medis Covid-19 yang Kian Menggunung
Petugas memindahkan sampah ke tempat penyimpanan limbah medis di RSUD Kabupaten Tangerang, Banten, Selasa (30/6/2020). RSUD Kabupaten Tangerang yang merupakan rumah sakit rujukan COVID-19 menghasilkan ribuan kilogram limbah medis per bulan yang pengelolaannya bekerja sama dengan pihak ketiga. Mereka juga menyimpannya di tempat aman sesuai prosedur kesehatan untuk mengantisipasi pencemaran. (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menginstruksikan jajarannya agar pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (Limbah B3) medis Covid-19 dilakukan secara intensif dan sistematis.

Hal tersebut disampaikan saat memimpin Rapat Terbatas mengenai Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Limbah B3) Medis Covid-19, melalui konferensi video, Rabu (28/7/2021).

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya yang ikut serta dalam rapat tersebut menuturkan, pengelolaan limbah B3 harus diperhatikan bagaimana sistem itu bekerja dari rumah sampai ke pusat-pusat pelayanan juga, atau paralel sampai kepada tempat penanganannya.

“Arahan Bapak Presiden bahwa terhadap penanganan limbah medis ini kita harus intensifkan dan harus lebih sistematis, betul-betul dilihat dari titik paling jauh di lapangannya,” ujar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya dalam keterangan pers, usai mengikuti rapat.

Siti menyampaikan, berdasarkan data yang ada di Kementerian LHK, jumlah limbah medis Covid-19 sampai dengan tanggal 27 Juli mencapai 18.460 ton. Bersumber dari fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes), rumah sakit darurat, pusat karantina/isolasi, rumah tangga (isolasi mandiri), serta tempat uji deteksi Covid-19 dan vaksinasi-Covid-19.

“Limbah medis itu seperti infus bekas, masker, vial vaksin, itu botolnya vaksin yang kecil itu, jarum suntik, kemudian face shield, perban, hazmat, APD, pakaian medis, sarung tangan, alat PCR/antigen, dan alkohol pembersih swab. Itulah yang disebut dengan limbah medis beracun, berbahaya,” ujarnya.

Data mengenai jumlah limbah B3 medis Covid-19 ini dihimpun berdasarkan laporan dari provinsi. Namun Siti memperkiraan data yang diterima tersebut belum lengkap, untuk itu Kementerian LHK  akan terus melengkapinya.

“Kalau perkiraannya asosiasi rumah sakit itu limbah medisnya itu besar sekali, bisa mencapai 383 ton per hari,” imbuhnya.

Lebih jauh Siti memaparkan, kapasitas pengolah limbah B3 medis saat ini mencapai 493 ton per hari. Namun diakuinya, meskipun kapasitas pengolah limbah B3 lebih besar dibandingkan limbah yang dikelola namun penyebarannya tidak merata dan terkonsentrasi di Pulau Jawa.