Rahmah

Ini Harapan Wamenag Zainut Tauhid pada ASN Kemenag Jelang Tahun Politik

Itu disampaikan dalam acara pembinaan dan pengarahan ASN di Jawa Timur.

Ini Harapan Wamenag Zainut Tauhid pada ASN Kemenag Jelang Tahun Politik
Zainut Tauhid (Instagram/@zainuttauhidsaadi)

AKURAT.CO Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi mengingatkan supaya Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Agama dapat menjaga kerukunan dan persatuan antar umat beragama menjelang datangnya tahun politik.

Hal itu ia sampaikan dalam agenda pengarahan dan pembinaan ASN Kementerian Agama di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

“Saya tegaskan, menjelang tahun politik, jangan sampai gara-gara berbeda pandangan, suami-istri bertengkar, tetangga tidak berteguran. Kita sebagai penghulu, penyuluh agama, guru, kita musti menjaga kerukunan dan perdamaian antar umat beragama,” kata Wamenag, Sabtu (13/8/2022), dikutip AKURAT.CO, Minggu (14/8).

baca juga:

“Kenapa ini penting? Karena kita hidup pada masyarakat yang majemuk atau berbeda-beda. Beda adat istiadatnya, bahasanya, sukunya, dan agamanya. Di dalam masyarakat yang majemuk ini kita harus memberikan pemahaman yang moderat,” kata dia.

Kementerian Agama, lanjut Wamenag, memiliki program prioritas moderasi beragama. Menurutnya, moderasi yang dimaksud adalah memoderasi perilaku dan cara umat dalam menjalankan agamanya, supaya tidak menjadi ekstrimis kiri maupun kanan, dalam kata lain tidak radikal juga tidak liberal.

“Indonesia ini merupakan negara yang darussalam atau cinta damai. Meskipun kita berasal dari agama, golongan, atau kelompok yang berbeda, kita tidak boleh menganggap hanya kelompok kita lah yang paling benar, sementara kelompok lain itu salah,” ujarnya.

“Di dalam internal umat Islam saja kita punya banyak perbedaan, baik perbedaan mazhab-nya, organisasinya, bahkan politiknya. Perbedaan-perbedaan itu diperbolehkan selama tidak menyinggung permasalahan ushul agama. Ada yang pake qunut ada yang enggak, ada yang memelihara jenggot ada yang enggak, ada yang bercelana cingkrang ada yang enggak, perbedaan-perbedaan furuiyah itu diperbolehkan,” jelasnya.

“Hal ini dicontohkan oleh para ulama terdahulu. Imam Syafii itu berbeda pandangan dalam banyak hal dengan gurunya, Imam Malik. Imam Syafii mengajarkan qunut saat subuh sementara Imam Malik tidak. Tapi ketika Imam Syafii datang ke kotanya Imam Malik, beliau tidak pakai qunut karena beliau menghormati gurunya,” ungkap Wamenag.

“Kecuali jika sudah menyinggung permasalahan ushul, seperti ada nabi setelah Nabi Muhammad, baru kita persoalkan, kerana itu bukan lagi perbedaan, melainkan penyimpangan,” pungkasnya.[]