Rahmah

Ini Filosofi Hidup dan Mati Menurut Ulama Kharismatik Gus Baha

Gus Baha menyampaikan, bahwa menganalisis hidup harus menggunakan ushul fikih.


Ini Filosofi Hidup dan Mati Menurut Ulama Kharismatik Gus Baha
Gus Bahauddin Nursalim (Instagram @GusBahaGram)

AKURAT.CO Gus Baha adalah seorang ulama kharismatik yang dikenal pandai dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan dengan mudah dan asyik. Para jemaah yang mendengarkan ceramahnya merasakan kenikmatan belajar agama dengan beliau.

KH Bahauddin Nursalim atau biasa disapa Gus Baha dalam sebuah kajian mengatakan, dalam kitab Lubbul Unshur karangan Syaikh Zakaria Al-Anshori dijelaskan sebuah kaidah yang menjelaskan tentang ulama yang berpendapat mubah itu tidak termasuk dalam bagian hukum. Sedangkan secara umum, agama Islam membagi hukum adalah wajib, sunnah, haram, mubah dan makruh.

Menurut Gus Baha, alasan ulama tersebut meniadakan mubah karena setiap orang  melakukan sesuatu yang mubah, disaat yang sama akan meninggalkan keharaman. Sementara meninggalkan keharaman adalah wajib, sehingga melakukan mubah juga merupakan wajib.

baca juga:

Gus Baha lantas mengisahkan tentang seorang ustaz yang kebingungan karena di dekat rumahnya ada acara dangdutan. Pikir ustaz tersebut mau tidak lihat dangdutan itu kesempatan, kalau lihat juga sadar dirinya ustaz. Sang ustaz itu lalu tidur dan setelah bangun acara dangdut itu sudah selesai.

"Misalnya ada acara dangdutan yang ramai. Jika kamu belum tidur pasti bingung, antara mau menonton atau tidak. Tidak menonton itu kesempatan. Tapi jika menonton, kan dirinya (agak) kiai. Kan, bingung!, Lalu kamu tidur, tidur itu kan mubah, ternyata setelah bangun acara dangdutnya sudah selesai, jadi tidurmu itu kan berarti meninggalkan sekian maksiat; melihat yang bukan mahram," ujar Gus Baha dalam video yang diunggah channel YouTube Santri Gayeng, Sabtu (27/11/2021).

Jadi ketika tidur, menurut Gus Baha, maka ia tidak maksiat, tidak mencuri, zina, selingkuh, dan menggunjing orang.

Gus Baha menambahkan, kisah Sufyan Ats-Tsauri yang pergi ke masjid, lalu ada tukang pungli (preman) tidur di masjid tersebut. Kemudian dibangunkan oleh santrinya dan disuruh untuk melaksanakan salat Subuh. 

Sufyan Ats-Tsauri lalu berkata kepada santrinya 'Jangan dibangunkan, dunia beristirahat kalau orang ini tidur, kalau bangun malah repot'.

"Makanya kalau ada orang fasik tidur, haram untuk dibangunkan, sebab kalau dibangunkan pasti aktivitasnya maksiat," kata Gus Baha.