Lifestyle

Mari Masuk, dan Mengenali Rumah Gadang

Rumah gadang terbagi menjadi beberapa bagian, setiap bagiannya mempunyai keunikan hingga filosfi tersendiri


Mari Masuk, dan Mengenali Rumah Gadang
Rumah Gadang Sumatera Barat (ISTIMEWA)

AKURAT.CO, Rumah Gadang adalah sebutan untuk rumah tradisional Minangkabau. Gadang dalam bahasa Minang, artinya besar. Besar secara harafiah maupun fungsi.

Ada dua fungsi, yakni sebagai monumen Minangkabau dan sebagai lembaga adat dan lambang suatu kaum. Mari masuk, dan mengenali Rumah Gadang.

Fungsi sebagai monumen Minangkabau

Fungsi ini menjelaskan bahwa rumah gadang sebagai bukti hasil kebudayaan sebuah suku yang sangat tinggi. Fungsi monumen bisa digambarkan dengan ungkapan Minang, "Rumah Gadang sembilan ruang, salanda kudo balari, sapakiak budak maimbau, Sajariah kubin malayang. Gonjongnya rabuang mambasuik, Antiang-antiangnyo disemba alang, Parabuangnyo si ula gerang, Batatah timah-timah puriah, Barasuak tareh limpato, Cucurannyo alang babega, Saga tasusun bak bada mudiak. Parannyo si bianglalo, batatah aie ameh, salo manyalo aie perak. Jariaunyo puyuah balari, indah sungguah dipandang mato, tagamba dalam sanubari,".

Fungsi sebagai lembaga adat dan lambang suatu kaum

Untuk fungsi sebagai lembaga adat dan lambang suatu kaum, lambang yang dimaksud adalah lambang kehidupan dan kerukunan, meliputi hal-hal sebagai berikut: 

  • Tempat tinggal sebuah keluarga besar dengan beberapa keluarga inti. 
  • Tempat bermusyarawarah atau bermufakat bagi kaum atau keluarga. 
  • Tempat melaksanakan upacara, seperti upacara penobatan penghulu, atau upacara perkawinan.
  • Tempat merawat anggota keluarga.

Rumah gadang terbagi menjadi beberapa bagian. Dikutip dari laman Wonderful Minangkabau, pertama ada bagian atap. Bagian atap biasanya terbuat dari ijuk yang dijalin, kemudian ujungnya meruncing membentuk gonjong.

Pemakaian ijuk sebagai simbol bahwa rumah gadang ramah lingkungan, seusia dengan falsafah hidup orang minangkabau yang utama adalah Alam Takambang Jadi Guru. Maksudnya, semua hal selalu memalui proses meniru dan belajar dari lingkungan alam sekitar.

Bentuk atap seringkali diasosikan mirip dengan tanduk kerbau. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa atap rumah gadang meniru Siriah Basusun (daun sirih yang disusun).

Siriah Basusun melambangkan rumah gadang sebagai tali penyambung silaturahim dan kekeluargaan. Sebagaimana sirih yang biasanya digunakan sebagai simbol penyambung silaturahim.

Bagian kedua adalah bangunan rumah gadang. Bentuk bangunan ini yakni segi empat memanjang ini hampir semua bahagianya terbuat dari kayu dan hasil alam lainnya.  

Bangunan rumah gadang dipercaya tahan gempa, dengan ekonologi mutakhir yang digunakan sejak abad lalu ini berupa pasak. Hal ini dibuktikn dengan tidak menggunakan paku untuk merekatkan dan menyambungkan dua bahagian kayu pada rumah adat ini. Jadi saat terjadi gempa, rumah ini berayun mengikuti ritme gempa. Jadi saat gempa rumah ini tidak akan roboh.

Bangunan rumah gadang memiliki ruang ganjil antara 3 hingga 11. Diantaranya terdapat ruangan lepas dan kamar-kamar. Jumlah kamar bervariasi tergantung besar kecilnya keluarga yang bernaung di rumah tersebut. Hanya orang tua dan anak perempuan yang berhak mendapat kamar.

Lalu, bentuk bangunan yang simetris dan meruncing di kedua ujungnya ini kerapkali digambarkan sebuah kapal besar. Hal ini selain menandakan bahwa rumah gadang adalah pusat kehidupan orang Minang, juga sebagai perlambangan tempat berteduh dan berlindung saat mengarungi lautan kehidupan.

Tak hanya itu, rumah gadang selalu dibuat tinggi menyerupai rumah panggung, tujuannya agar ruang dibagian bawah bisa digunakan. Pada bagian depan, dibuatkan tangga. Sebab, pada zaman dahulu, dibagian bawah tangga ada batu dan cibuak untuk mencuci kaki.

Rumah gadang juga kebanyakan memiliki kolam ikan di depannya. Selain untuk memelihara ikan, kolam merupakan sumber air untuk kegiatan sehari-hari, mandi dan mencuci.

Selain kolam, di bagian halaman rumah gadang ada bangunan tinggi dan ramping bergonjong. Bangunan dengan 4 hingga 6 tiang ini, pada salah satu sisi dibuatkan pintu kecil. Bangunan ini dinamakan Rangkiang.

Rangkiang adalah simbol bertahan hidup masyarakat Minangkabau karena untuk menaruh bahan pangan penghuni rumah gadang. Ada banyak macam rangkiang dan setiap rangkiang punya fungsi masing masing.[]