Lifestyle

Ini Dampak Polusi Udara Pada Kesehatan Anak

Paparan polusi udara memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesehatan anak


Ini Dampak Polusi Udara Pada Kesehatan Anak
Ratusan kendaran motor saat melintas di Jalan Daan Mogot kawasan Taman Kota, Jakarta Barat, Sabtu (7/9/2019). Menurut data Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), motor menghasilkan lebih banyak polusi dibandingkan dengan mobil diesel, bensin, bus, truk, atau bajaj sekalipun. Dari data yang dikeluarkan oleh KPBB, kendaraan yang menghasilkan jumlah polutan tertinggi per harinya adalah motor dengan jumlah 8.500 ton (44,53 %), bus 4.106 ton (21.43 %), dan mobil pribadi 2.712 ton (16,11%). Polut (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Hidup di Bumi tidak bisa bebas dari polusi. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan polusi sebagai pengotoran atau pencemaran. 

Bentuk polusi cukup beragam saat ini, mulai dari polusi udara, polusi air, polusi tanah, hingga polusi suara. Seperti diketahui, polusi udara adalah pencemaran pada udara dengan hadirnya berbagai bahan pencemar di luar ambang batas.

Sebuah jurnal yang ditebitkan LAPAN menyebutkan, beberapa bahan pencemar tersebut memiliki unsur kimia CO, NO, SO, SPM (suspended particulate matter, O dan berbagai logam berat seperti timbal.). Secara global, penyumbang pencemaran udara berasal dari sektor transportasi.

baca juga:

Dikutip dari laman WHO, kehidupan manusia saat ini telah dikungkung dengan polusi udara dari berbagai arah. Kabut asap dari alat transportasi telah memenuhi ruang udara untuk bernapas. Ditambah lagi, muncul polusi udara dari rumah tangga seperti asap rokok hingga pembakaran sampah.

Ternyata, paparan polusi udara memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesehatan anak. Dampak buruk polusi udara bisa menghantui anak-anak sejak mereka masih dalam kandungan.

Menurut Dokter Spesialis Anak dari AIIMS Patna yang dikutip dari laman The Sun, Dr Chandra Mohan Kumar, paparan polusi udara pada janin dalam kandungan dapat memicu terjadinya kelahiran prematur. 

Pada bayi dan anak kecil, paparan polusi udara juga tampak berkaitan dengan masalah perkembangan kognitif.

Menurut Kumar, polusi udara juga merupakan salah satu penyebab kematian terbesar pada anak berusia di bawah lima tahun. Ironisnya, lebih dari 90 persen anak berusia di bawah 15 tahun menghirup udara yang sudah tercemar polusi. Bahkan pada negara-negara berpendapatan rendah dan menengah, anak yang terpapar polusi udara bisa mencapai 98 persen.

Dr Kumar mengatakan, penyebab anak menjadi lebih rentan terhadap paparan polusi udara karena mereka bernapas lebih cepat dibandingkan orang dewasa.