Lifestyle

Hey Ortu, Jangan Sesekali Larang Anak Menangis!

Berikut dampak-dampak yang terjadi pada anak, yang dilarang menangis oleh orang tuanya


Hey Ortu, Jangan Sesekali Larang Anak Menangis!
Ilustrasi anak sedang menangis (Unsplash/Ashwini Chaudhary)

AKURAT.CO, Menangis adalah salah satu cara mengeluarkan emosi sedih dan amarah yang ada di dalam hati. Ini penting dan sehat, terutama bagi anak. 

Bahkan sejak bayi, menangis merupakan satu-satunya cara bagi anak untuk berkomunikasi dengan orang tua sehingga wajar bila Si Kecil sering menangis selama masa tumbuh kembangnya. 

Namun beberapa orangtua mungkin merasa tidak nyaman dengan anak yang kerap menangis. Ketika Si Kecil menangis terus-menerus, orangtua akan menyuruh anak berhenti menangis karena malu di tempat umum atau pusing mendengar suara anaknya yang menangis. 

Apalagi bila anak laki-laki yang menangis, seringkali dilarang karena tangisan dianggap akan membuatnya terlihat lemah. 

Hal ini perlu diwaspadai. Sebab, apabila terus-menerus menyuruh anak berhenti menangis ketika mereka merasa sakit atau sedih, justru akan membawa dampak buruk. 

Berikut dampak-dampak yang terjadi pada anak yang dilarang menangis oleh orangtua:

Merasa orangtua menyepelekan dirinya

Ada tipe orangtua yang cenderung mengabaikan bahkan memarahi anak yang mulai menangis, terutama untuk anak laki-laki. Sebab, sebagian orang tua masih menganggap bahwa anak laki-laki harus menjadi anak yang kuat dan tidak boleh cengeng.

Ada juga orangtua yang menekankan bahwa menangis hanya akan buang-buang waktu. Padahal sebaliknya, anak merasa bahwa orangtua menyepelekan apa yang dia rasakan saat itu. 

Menurunkan kepercayaan diri anak

Saat orangtua melarang anak untuk mengekspresikan perasaannya, lama kelamaan tingkat kepercayaan diri Si Kecil menurun.

Bila orangtua terbiasa melarang anak menangis, anak bahkan bisa takut untuk bertemu dengan orang lain. Anak juga bisa menolak bantuan orang lain saat merasa butuh karena takut dianggap lemah dan tidak berdaya.

Efek samping lain adalah anak bisa menyalahkan dirinya sendiri ketika harus meminta bantuan. Padahal, minta bantuan adalah situasi yang sangat wajar, terutama pada anak-anak.

Anak merasa mengeluarkan emosi itu salah

Ketika orangtua sering melarang anak menangis, dia akan merasa bahwa emosi yang dia rasakan merupakan sesuatu yang salah. Nantinya, anak jadi terbiasa memendam perasaan dan merasa baik-baik saja.

Tanpa sadar, anak menekan dirinya sendiri, padahal dia sedang merasa kebalikannya. Emosi memang tidak selalu negatif, ada juga yang positif.

Namun, anak yang terbiasa tidak boleh menangis akan menganggap ketakutan dan kemarahan adalah emosi buruk yang harus ia hindari.

Sulit berempati

Manusia memiliki kelebihan daripada makhluk lainnya dalam hal merasakan dan mengekspresikan emosi. Emosi sudah menjadi salah satu bentuk bagi makhluk hidup untuk berkomunikasi. Memisahkannya dari kehidupan akan sangat mustahil.

Saat anak terbiasa tidak boleh menangis untuk mengekspresikan perasaannya, dia akan melakukan hal yang sama pada orang lain. Anak akan sulit atau bahkan bisa kehilangan rasa empati ketika melihat temannya sedih, kecewa atau menangis.[]