Lifestyle

Nah, Ini Alasan Orang Madura Gemar Merantau

Merantau bahkan sudah menjadi bagian dari sejarah hidup Masyarakat Madura. Pada abad ke 15, perahu-perahu Madura telah berlayar ke Melaka


Nah, Ini Alasan Orang Madura Gemar Merantau
Pemudik berada dalam bus di Terminal Bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) Kalideres, Jakarta Barat, Minggu (2/5/2021). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Suku Madura merupakan suku bangsa yang mendiami Pulau Madura, Jawa Timur. Pada dasarnya Suku Madura termasuk ke dalam kategori Suku Jawa. Namun, suku Madura memiliki tradisi, budaya serta bahasa yang cukup berbeda dengan Suku Jawa.

Salah satunya budaya merantau. Meski begitu, saat ini masyarakat suku Madura telah tersebar di berbagai daerah Nusantara karena budaya merantaunya.

Migrasi atau merantau bahkan sudah menjadi bagian dari sejarah hidup Masyarakat Madura. Pada abad ke 15, perahu-perahu Madura telah berlayar ke Melaka, sebuah kerajaan Islam yang berdiri tahun 1400 di wilayah Malaysia.

Pahlawan Revolusi sekaligus Sastrawan Hamka, yang pernah berkunjung ke Madura pada 1935, menggambarkan orang Madura sebagai pelaut yang gagah berani.

"Sudah sejak dari zaman dahulu penduduk Madura, pulau kecil yang didinding lautan itu, mengharung ombak gelombang, menempuh lautan besar dengan perahu layarnya! Sudah sejak dahulu anak Madura dengan perahunya itu berlayar ke Malaka, Kerajaan Islam," tulis Hamka dalam "Dari Perbendaharaan Lama".

Bahkan catatan-catatan resmi mengenai budaya merantau ini, baru muncul setelah Raja-raja di Madura takluk tanpa peperangan kepada Gubernur Jenderal asal Inggris, Sir Stamford Raffles pada zaman Pemerintah Kolonial Inggris.

Pada tahun 1806 misalnya, telah banyak perkampungan Madura di karesidenan Jawa bagian timur. Di Puger, Banyuwangi misalnya ada 22 Desa Madura. Di Probolinggo 3 Desa dan di Pasuruan 25 Desa.

Kemudian 40 tahun kemudian, tepatnya tahun 1846, jumlah total penduduk Madura yang bermukim di karesidenan Jawa bagian timur mencapai 498.273 jiwa. Sementara. yang bermukim di Surabaya, Gresik dan Sedayu, mencapai 240 ribu jiwa.

Ditambah masifnya pembukaan perkebunan di Jawa pada zaman penjajahan, menarik minat orang Madura menjadi buruh. Ongkos berlayar yang murah, hanya 25 sen per kepala, cukup andil terhadap percepatan migrasi di Madura.

Sebab modal ongkos itu, setara upah buruh sehari yang berkisar antara 25 hingga 30 sen perorang.

Bila ingin upah lebih besar, mereka menuju ke pedalaman, bekerja di perkebunan kopi dengan upah 35 hingga 40 sen perhari. 

Buruh Madura juga diminati para pemilik perkebunan, karena bisa melakukan apa saja sesuai kebutuhan. 

Penulis buku "Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura" yakni Kuntowijoyo, membagi para Perantau Madura dalam dua kategori yaitu temporer dan permanen. Kategori terakhir tak terlalu terpantau aktivitasnya.

Sedangkan Perantau temporer, paling sebentar merantau tiga bulan dan paling lama enam bulan. Siklus musim tanam adalah jadwal sekaligus jadi penanda waktu merantau.

Mereka mulai berlayar ke Jawa pada awal musim kemarau dan kembali lagi pada awal penghujan. Namun ,banyak pula yang telah kembali pada akhir bulan Ramadan alias mudik.

"Sebab utama yang mendorong orang Madura merantau karena tanah pertanian yang kurang dan jarangnya makanan di Madura. Kepadatan penduduknya lebih tinggi dibandingkan luas lahan pertanian yang ada," tulis Kuntowujoyo.

Catatan resmi juga menunjukkan, jumlah keberangkatan dan kedatangan para perantau Madura nyaris seimbang. Pada 1917, total penduduk Madura yang berangkat sebanyak 255 ribu orang dan yang kembali kurang lebih 261 ribu orang.

Yang menarik, meski satu suku, perantau di tiap kabupaten punya karakteristik berbeda. Para perantau dari Bangkalan umumnya laki-laki, belum menikah, tidak punya anak dan tidak punya tanah garapan. Sedangkan perantau Sumenep sebagian telah berkeluarga.

Menurut Kuntowijoyo, Jumlah perantau Madura terus meningkat setiap tahun. Pada 1930, Belanda mencatat total populasi etnis Madura- termasuk wilayah kepulauan di Sumenep- mencapai 4,2 juta jiwa.

Dari jumlah itu, ada 1,9 juta tinggal di Madura, sedang 2,3 juta atau 55 persennya menetap di Jawa.

Bahkan di tahun itu, orang Madura menjadi penduduk mayoritas pada sejumlah keresidenan di Jawa Timur. Di Kraksan misalnya 83 persen penduduknya orang Madura. 

Di Probolinggo orang Madura berjumlah 72 persen. Di Jember mencapai 61 persen. Di Pasuruan 45 persen dan di Malang dan Bangil masing-masing 12 Persen

Kini cakupan rantau orang Madura tak hanya Jawa. Namun, telah menyebar ke seantero Nusantara juga dunia.