Tech

Ini Alasan Facebook Tutup Fitur Live Shopping

Fitur Live Shopping pertama kali diluncurkan pada 2018 di Thailand.


Ini Alasan Facebook Tutup Fitur Live Shopping
Fitur Live Shopping di Facebook babak ditutup mulai 1 Oktober 2022. (pexels.com/kaboompics)

AKURAT.CO Facebook mengumumkan akan menutup salah satu fiturnya, yakni "Live Shopping" pada 1 Oktober 2022.

Penutupan fitur Live Shopping ini dilakukan supaya perusahaan bisa lebih fokus pada pengembangan Reels di Facebook dan Instagram.

"Karena perilaku menonton konsumen beralih ke video bentuk pendek, kami mengalihkan fokus kami ke Reels di Facebook dan Instagram, produk video bentuk pendek Meta," jelas Facebook, dikutip dari laman The Verge, Jumat (5/8).

baca juga:

Live Shopping sendiri merupakan fitur siaran langsung yang memungkinkan pengguna melakukan aktivitas jual beli secara live di Facebook.

Meski fitur ini bakal ditutup, Facebook menyebut, penggunannya masih bisa menikmati fitur ini melalui Instagram.

Fitur ini pertama kali diluncurkan pada 2018 di Thailand. Dimana melalui fitur Live Shopping mampu membuka aliran pendapatan lain bagi pembuat konten di Facebook.

Hal ini karena Live Shopping memungkinkan influencer bisa menyelenggarakan sesi belanja langsung mereka sendiri. Mereka dapat memamerkan dan menjual berbagai produk, baik dari toko mereka sendiri ataupun melalui afiliasi.

Facebook meluncurkan fitur tersebut pada skala yang lebih luas pada tahun 2020. Pada waktu yang hampir bersamaan, Facebook juga memperkenalkan tab belanja khusus.

Sementara itu, fitur Live Shopping ini sebenarnya sangat populer di Cina. Namun, hal itu tidak berkembang di bagian lain dunia. Bahkan, TikTok mengumumkan menarik kembali Live Shopping di AS dan Eropa bulan lalu.

Di sini lain, penutupan fitur Live Shopping ini  menunjukkan dedikasi Facebook yang meningkat pada fitur video pendeknya, Reels, yang secara resmi dibawa ke platform tahun lalu. Bahkan, Facebook telah mempertimbangkan untuk membuat algoritmanya lebih mirip TikTok, sesuatu yang telah dilakukan oleh perusahaan induknya, Meta, pada Instagram.

Seperti Facebook, Instagram juga telah mendorong konten bentuk pendek, dengan semua video di platformnya menjadi Reel.

Penekanan pada Reels ini pun menimbulkan kekhawatiran di antara pengguna Instagram lama yang telah mengetahui aplikasi ini sebagai cara untuk berbagi foto dengan teman.

Bahkan, CEO Instagram Adam Mosseri dikritik publik setelah memberi tahu pengguna bahwa platform tersebut akan berfokus pada video.[]