Lifestyle

Ini Alasan 6 dari 10 Ibu Menyusui Bisa Tidak Bahagia

Hasil penelitian HCC menunjukkan hampir 60 persen atau 6 dari 10 ibu menyusui merasa tidak bahagia dengan proses menyusui selama pandemi

Ini Alasan 6 dari 10 Ibu Menyusui Bisa Tidak Bahagia
Ilustrasi ibu menyusui (Freepik/freepic.diller)

AKURAT.CO  Penelitian dari Health Collaborative Center (HCC) menunjukkan 6 dari 10 ibu menyusui merasa tidak bahagia dengan proses menyusui selama pandemi Covid-19.

Associate researcher HCC Bunga Pelangi, SKM, MKM menjelaskan bahwa penelitian ini menggunakan model sosio-ekologi. Melalui metode tersebut, penelitian menunjukkan persepsi positif dapat memotivasi agar anggota keluarga mendukung ibu dalam memberikan ASI. 

Ketua HCC Ray Wagiu Basrowi, mengatakan penelitian pada 1.920 responden ibu menyusui ini, diketahui bahwa penyebab utama perasaan tidak bahagia pada ibu menyusui adalah karena aspek dukungan yang diharapkan tidak maksimal.

baca juga:

Padahal sebanyak 90 persen atau 1.810 responden ibu menyusui membutuhkan dukungan suami, serta 59 persen atau 1.182 responden menginginkan dukungan anggota keluarga, khususnya ibu kandung dari pihak ibu menyusui.

“Dukungan utama yang diharapkan adalah memang dari suami dan core family atau keluarga inti, dan  mayoritas ibu menyusui pada responden penelitian ini menunjukkan tidak mendapat dukungan ini,” jelas Ray Wagiu Basrowi melalui siaran pers, dikutip pada Kamis (11/8/2022).

Ketika dukungan tersebut hilang dan ibu menyusui merasa tidak bahagia dengan proses laktasi, potensi gagal ASI sangat besar dan ibu juga bisa mengalami konsekuensi stres.

"Ketika ibu menyusui kehilangan core support terutama dari suami, ini maka proses menyusui kemudian menjadi sekadar menjalankan fungsi biologis memberi makan bayi saja, dan kehilangan esensi untuk memberi kedamaian dan kebahagiaan secara emosional atau psikologi bagi ibu sendiri,” katanya.

Agar dukungan pada ibu menyusui dimungkinkan, sebanyak lebih dari 80 persen responden menyatakan sangat setuju terhadap peraturan rencana hak cuti 40 hari untuk suami siaga. 

Menurut 74 persen responden, bahwa hal tersebut berguna untuk mendukung proses pemulihan setelah melahirkan.