Ekonomi

Ingin Neraca Pembayaran Surplus, Jokowi Dorong Penggunaan Mobil Listrik

Presiden Jokowi mendorong penggunaan mobil listrik karena menginginkan neraca​​​ pembayaran Indonesia surplus.


Ingin Neraca Pembayaran Surplus, Jokowi Dorong Penggunaan Mobil Listrik
Presiden Joko Widodo memulai rangkaian kunjungan ke luar negeri ke tiga negara yakni Italia, Inggris Raya, dan Persatuan Emirat Arab dari Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, Jumat, (29/10/2021). (AKURAT.CO/BPMI-Setpres/Kris)

AKURAT.CO, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan pemerintah memiliki tujuan besar untuk memberi keuntungan (surplus) ke neraca​​​ pembayaran Indonesia yang selama puluhan tahun terkendala tingginya impor minyak.

Karena itu Presiden mendorong penggunaan mobil listrik dan juga kompor listrik untuk mengurangi kebutuhan minyak dan gas (migas).

"Kalau kita bisa mengalihkan itu ke energi yang lain, misalnya mobil diganti listrik semuanya, gas rumah tangga diganti listrik semuanya, karena di PLN over supply (kelebihan pasokan) artinya supply dari PLN terserap, impor minyak di Pertamina jadi turun," kata Presiden Jokowi dalam arahannya kepada Komisaris serta Direksi Pertamina dan PLN, di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (16/11/2021) sebagaimana video yang diunggah kanal Youtube Sekretariat Presiden, Sabtu (20/11/2021).

baca juga:

Dengan mengoptimalkan penggunaan listrik dari PT PLN (Persero), maka masalah pasokan listrik berlebih PLN dapat diatasi, sekaligus juga menurunkan impor minyak oleh PT Pertamina (Persero).

Jika impor minyak berhasil dikurangi, lanjutnya, maka akan berdampak positif kepada neraca transaksi berjalan dan neraca pembayaran Indonesia.

"​​Goal (tujuan) besarnya adalah negara ini akan memperoleh keuntungan dalam bentuk neraca pembayaran kita yang sudah berpuluh tahun kita tidak bisa selesaikan, karena problemnya impor minyak kita terlalu besar sekali," kata Presiden Jokowi.

Menurunnya impor minyak juga akan membuat Pertamina dapat mengurangi kebutuhan dolar AS di pasar keuangan sehingga akan memperkuat nilai tukar mata uang rupiah. Jika kurs rupiah menguat karena impor yang terus menurun, ekonomi Indonesia secara fundamental akan lebih berdaya tahan dan berdaya saing.

"(Mempengaruhi) yang namanya kurs dolar kita karena setiap bulan Pertamina harus menyediakan pembelian dolar AS di pasar dalam jumlah yang tidak kecil, besar sekali," ujarnya.

Presiden Jokowi juga meminta PLN untuk menyiapkan transisi energi dari sumber daya fosil ke sumber daya yang ramah lingkungan (ekonomi hijau).

Sumber: ANTARA