News

Ingat, Kasus Penularan COVID-19 Masih Tinggi, Ayo Bantu dengan Isolasi Mandiri Secara Ketat


Ingat, Kasus Penularan COVID-19 Masih Tinggi, Ayo Bantu dengan Isolasi Mandiri Secara Ketat
Wisma Karantina Pademangan, Jakarta (Dokumentasi BNPB)

AKURAT.CO, Lebih dari seribu lima ratus penambahan kasus konfirmasi positif COVID-19 hingga hari Minggu (5/7/2020), kemarin. Hal ini menunjukkan di Indonesia, penularan masih tinggi.

Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 Achmad Yurianto mengatakan sebagian dari kasus positif justru tidak menunjukkan gejala yang diindikasikan untuk dirawat di rumah sakit.

Ia menekankan langkah paling tepat menangani kasus ini adalah melaksanakan isolasi secara mandiri dengan ketat.

baca juga:

“Ini menjadi penting karena kalau ini tidak dilaksanakan dengan baik, maka akan menjadi sumber penularan baru di tengah-tengah masyarakat kita,” kata Yurianto dalam dialog daring.

Yurianto meminta semua pihak bekerja keras untuk memutus mata rantai penularan COVID-19. Pemeritah pusat dan gugus tugas daerah akan melakukan upaya penelusuran dan pelacakan kontak dari kasus positif yang ditemukan.

Selain mencegah penularan, upaya penyembuhan juga terus diupayakan oleh gugus tugas nasional dan daerah. Kasus sembuh berdasarkan data kemarin tercatat 886 kasus sehingga total kasus sembuh berada pada angka 29.105. Yurianto mengakui angka sembuh secara total berada pada 45,42 persen.

“Jika, kita melihat rata-rata global, memang masih berada di bawah karena rata-rata global hari ini dilaporkan ada 56,71 persen,” ujarnya.

Namun, Yurianto mencatat secara keseluruhan ada 11 provinsi sebenarnya yang sudah memiliki angka kesembuhan di atas 75 persen. Ini berarti pasien penderita COVID-19 sudah banyak yang menjadi sembuh.

Sedangkan kasus meninggal, Gugus Tugas Nasional mencatat ada 82 kasus per Minggu kemarin  sehingga total angka menjadi 3.171 orang.

“Kalau kita lihat angka kematian secara nasional, langkah kita berada pada angka 5 persen. Ini pun juga relatif lebih tinggi dibandingkan dengan angka rata-rata dunia yang saat ini mencapai 4, 72 persen,” kata Yurianto. []