News

Ingat dan Catat! Yusril Bantu Moeldoko Cs Begal Partai Demokrat

Sulit menghindari asumsi bahwa langkah Yusril membela kubu Kongres Luar Biasa Deli Serdang didasarkan pada pragmatisme bisnis semata.


Ingat dan Catat! Yusril Bantu Moeldoko Cs Begal Partai Demokrat
Ketua tim kuasa hukum Jokowi-Ma'ruf, Yusril Ihza Mahendra saat membacakan jawaban dalam sidang sengketa Pilpres 2019 di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Selasa (18/6/2019). Sidang kedua sengketa Pilpres 2019 yang dimohonkan Prabowo-Sandi hari ini beragendakan pemeriksaan persidangan yakni mendengar jawaban dari termohon, terkait, dan Bawaslu RI. (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Politisi Partai Demokrat Renanda Bachtar mengomentari langkah Yusril Ihza Mahendra menjadi kuasa hukum kubu Moeldoko dan berencana mengguggat AD/ART partainya ke Mahkamah Agung.

"Yusril secara khusus hanya ajukan judicial review atas AD ART PD. Ingat dan catat, Yusril bantu Moeldoko cs membegal Partai Demokrat," tulis Renanda seperti dilihat di akun Twitter miliknya, @renandabachtar, Jumat (24/9/2021).

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat itu mengungkapkan alasan Yusril menggugat AD ART Partai Demokrat karena tidak demokratis menggelikan. Ia menyebut mestinya Yusril yang juga ketua umum Partai Bulan Bintang menggugat AD/ART partai politik lainnya ke MA.

"Dalih Yusril macam-macam tapi jadi lucu karena banyak AD/ART partai lain tidak sedemokratis PD," cuitnya. 

Yusril, menurutya, menunjukkan diri tidak peduli apakah pembelaannya terhadap suatu kasus bisa membuka peluang perbuatan jahat, korupsi, makar dan lain-lain. Sebab Yusril mengaku tidak tahu menahu dengan misi empat orang pemberi kuasa terhadapnya, apakah mereka mau take over Demokrat atau misi-misi lainnya.

Oleh karenanya Renanda tak tanggung-tanggung menyebut apa yang dilakukan oleh Yusril bukan karena demokrasi, melainkan karena alasan materi.

"Apa betul alasan Yusril hanya sebatas ingin memberikan pencerahan hukum? Mengapa hanya AD/ART PD yang dia persoalkan? AD/ART PBB apa tidak seperti itu?

Saya sudah baca kok. Mengapa Yusril abai soal ini? Sulit hindari asumsi bahwa ini soal pragmatisme bisnis semata bagi Yusril," cuit Renanda Bachtar lagi.[]