News

Inflasi Sri Lanka Pecahkan Rekor 54,6 Persen, Ekonom Yakin Angka Aslinya 128 Persen

Menurut data resmi pada Jumat (1/7), inflasi Sri Lanka naik menjadi 54,6 persen.


Inflasi Sri Lanka Pecahkan Rekor 54,6 Persen, Ekonom Yakin Angka Aslinya 128 Persen
22 juta warga Sri Lanka mengalami kekurangan kebutuhan pokok yang akut, termasuk makanan, BBM, dan obat-obatan selama berbulan-bulan. (AFP)

AKURAT.CO Inflasi Sri Lanka mencapai rekor ke-9 berturut-turut pada Juni. Menurut data resmi pada Jumat (1/7), angkanya naik menjadi 54,6 persen sehari setelah IMF meminta negara bangkrut itu untuk mengendalikan harga yang melonjak dan korupsi.

Dilansir dari AFP, inilah pertama kalinya kenaikan Indeks Harga Konsumen Kolombo (CCPI) melewati batas 50 persen yang penting secara psikologis, menurut departemen sensus dan statistik.

Beberapa jam sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) mendesak Sri Lanka untuk menahan laju inflasi dan mengatasi korupsi untuk menyelamatkan ekonominya yang tak sehat. IMF mengakhiri 10 hari diskusi langsung dengan otoritas Sri Lanka di Kolombo pada Kamis (30/6), menyusul permintaan negara tersebut untuk kemungkinan bailout.

baca juga:

Sementara itu, CCPI telah menetapkan puncak kenaikan bulanan baru sejak Oktober ketika inflasi tahun ke tahun Sri Lanka hanya mencapai 7,6 persen. Pada bulan Mei, angkanya meroket hingga 39,1 persen.

Rupee Sri Lanka telah kehilangan lebih dari setengah nilainya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tahun ini. Namun, ekonom swasta mengatakan harga konsumen naik lebih cepat daripada angka dalam statistik resmi. Menurut seorang ekonom di Universitas Johns Hopkins, Steve Hanke, yang melacak kenaikan harga di negara-negara bermasalah, inflasi Sri Lanka saat ini adalah 128 persen, kedua setelah Zimbabwe 365 persen.

Mengalami kekurangan energi yang akut, Sri Lanka menutup lembaga-lembaga negara yang tak penting dan sekolah selama 2 pekan untuk mengurangi perjalanan. Selain itu, 22 juta orang di sana mengalami kekurangan kebutuhan pokok yang akut, termasuk makanan, BBM, dan obat-obatan selama berbulan-bulan.

Aksi protes pun terus berlanjut di depan kantor Presiden Gotabaya Rajapaksa. Mereka menuntut pengunduran dirinya karena gejolak ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya dan salah urus.[]