Abiwodo, S.E., M.M.

Penulis adalah Profesional Perbankan
Ekonomi

Inflasi Akibat Naiknya Harga BBM, Apa Kabar Ketahanan Perbankan?

Jadi strategi umum untuk mengendalikan inflasi, terlebih setelah kenaikan harga BBM, yaitu menekan peredaran uang di masyarakat

Inflasi Akibat Naiknya Harga BBM, Apa Kabar Ketahanan Perbankan?
Ilustrasi (Freepik)

AKURAT.CO Pemerintah resmi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada 4 September 2022. Tiga hari kemudian, 7 September 2022, naiknya tarif dasar transportasi diumumkan, juga diikuti kenaikan harga sejumlah bahan pokok. Inflasi terjadi. Lantas, apa kabar dengan ketahanan perbankan kita?

Begini. Dari kacamata ekonomi makro, inflasi justru diperlukan agar perekonomian stabil, asalkan masih dalam tingkat yang wajar, antara 2% sampai 3% pertahun. Bahayanya itu kalau yang terjadi adalah hiperinflasi alias inflasi yang tak terkendali, saat harga-harga barang dan jasa meroket, dan nilai uang turun drastis. Inflasi inilah yang harus dihindari karena ini adalah bencana ekonomi.

Nah, biasanya saat inflasi tinggi terjadi, bank sentral dalam hal ini Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga acuan. Teorinya, ketika suku bunga naik, permintaan pinjaman pada bank akan menurun. Sebaliknya aksi menyimpan uang atau menabung di bank bisa meningkat karena bunganya naik.

baca juga:

Kalau suku bunganya rendah alias tidak dinaikkan, pengajuan pinjaman cenderung meningkat -- baik dari individu maupun pengusaha. Situasi ini akan berpengaruh pada peningkatan jumlah uang yang beredar di masyarakat dan meningkatnya permintaan barang dan jasa. Teorinya, saat permintaan meningkat maka harga barangnya akan naik, semakin mendorong inflasi.

Inilah bencana yang tadi saya maksud. Tatkala inflasi melaju dengan kenaikan harga yang tak terkendali, sudah tentu daya beli masyarakat merosot. Saat itulah perekonomian memburuk, tidak tumbuh, bahkan terpuruk.

Jadi strategi umum untuk mengendalikan inflasi, terlebih setelah kenaikan harga BBM, yaitu menekan peredaran uang di masyarakat agar kenaikan harga bisa terkendali. Caranya, menaikkan suku bunga acuan. Dan, perkiraan saya saat ini suku bunga acuan bisa naik lebih tinggi dibandingkan perkiraan awal.

Sebelum kenaikan harga BBM, BI sempat mengubah Giro Wajib Minimum Rupiah untuk BUK (Bank Umum Konvensional) dari 5,0% menjadi 6,0% mulai 1 Juni 2022, kemudian 7,5% mulai 1 Juli 2022 dan 9,0% mulai 1 September 2022. Namun, dengan kenaikan harga BBM Bersubsidi, apakah angka tersebut masih bertahan?

Pada 22-23 Juni 2022, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI-7DRRR) sebesar 3,5%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75% dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%.

Dengan kondisi inflasi Agustus 2022 sebesar 4,69% ditambah dengan kenaikan harga BBM Bersubsidi, bisa diprediksi kenaikan inflasi umum ke kisaran 6,6-6,8% pada tahun ini, dan inflasi inti ke atas target range akan mendorong BI untuk menaikkan suku bunga acuan (BI7DRRR) maksimal 100 bps atau minimal ke 4,75% pada sisa tahun 2022, atau lebih tinggi dibandingkan asumsi awal sebesar 50 bps ke 4,25% sebelum adanya kenaikan BBM bersubsidi.

Lebih jauh lagi, kenaikan inflasi yang berlanjut ke semester pertama 2023 juga akan membuka peluang BI untuk kembali menaikkan suku bunga acuan pada awal tahun depan.

Dilemanya adalah, saat peredaran uang di masyarakat terbatas akibat naiknya suku bunga, sudah tentu daya beli masyarakat ikut menurun. Tapi setidaknya kenaikan harga barang dan jasanya masih bisa terkendali. Pada situasi ini, yang terdampak sudah pasti masyarakat yang berada di kelas ekonomi menengah ke bawah.

Untuk meredam tekanan ekonomi tersebut, pemerintah menyalurkan bantuan sosial (bansos) tambahan senilai Rp24 triliun sebagai bantalan bagi masyarakat yang membutuhkan. Ada Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk 20,65 juta keluarga, masing-masing senilai Rp600.000, juga Bantuan Subsidi Upah (BSU) bagi 16 juta pekerja yang berpenghasilan di bawah Rp3,5 juta perbulan, sebesar Rp600 ribu per-pekerja. Harapannya, masyarakat ekonomi menengah ke bawah masih memiliki daya beli untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pemerintah juga meminta kepada Pemerintah Daerah untuk memberikan subsidi yang bisa diambil dari dana transfer ke daerah, kemudian dialirkan ke pelaku UMKM, ojek, nelayan dan lainnya.

Ketahanan Perbankan

Saat suku bunga acuan naik, angka penyaluran kredit perbankan pasti menurun dan bank akan mengoreksi targetnya. Begitu pula dengan suku bunga simpanan yang ikut terkerek naik, tentu bisa menjaga nasabah agar tidak mengeluarkan atau memindahkan dananya.

Namun saya tetap yakin kalau perbankan masih mampu memberikan kepercayaan untuk bisa menyalurkan kredit, sehingga pertumbuhan ekonomi semakin terjaga. Selain itu, kredit tetap bisa dimanfaatkan untuk kegiatan produktif maupun investasi.

Pada sisi lain bank sangat membutuhkan dana untuk menjaga likuiditasnya tetap sehat. Yang kita tau, belum pernah ada bank kolaps karena timbunan non performing loan (NPL) yang tinggi. Justru sebaliknya, bank bisa ambruk karena salah dalam mengelola likuiditas. Jadi, upaya menahan simpanan masyarakat dengan jalan menaikkan suku bunga wajar dilakukan.

Meski ketahanan perbankan kita hari ini masih dinilai aman, tapi kita harus tetap waspada. Pelemahan ekonomi dan ketidakpastian situasi ekonomi global masih di depan mata dan harus dihadapi dengan bijak. Ya, sebijak kita dalam menjaga penggunaan BBM.