News

Infeksi Delta Melonjak, CDC Amerika Serikat Ubah Pedoman COVID-19

Infeksi Delta Melonjak, CDC AS Ubah Pedoman COVID-19 dan Minta Warga yang Divaksin Pakai Masker


Infeksi Delta Melonjak, CDC Amerika Serikat Ubah Pedoman COVID-19
Banyak pakar kesehatan ikut menyebut bahwa penggunaan masker bisa jadi cara teraman untuk memperlambat penyebaran varian Delta (Daniel Slim/AFP via Getty Images)

AKURAT.CO, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) telah merevisi panduannya tentang pemakaian masker untuk COVID-19. Dalam aturan barunya itu, CDC merekomendasikan warga yang sudah divaksin lengkap untuk tetap memakai masker di dalam ruangan di tempat-tempat umum. Ini terutama bagi mereka yang tinggal di daerah dengan penyebaran virus corona atau varian Delta yang tinggi atau signifikan.

"Di daerah dengan penularan substansial dan tinggi, CDC merekomendasikan agar individu yang divaksinasi lengkap tetap memakai masker di dalam ruangan di tempat-tempat umum untuk membantu mencegah penyebaran Delta dan melindungi orang lain," kata CDC saat merilis pedoman barunya pada Selasa (27/7) waktu setempat.

Anjuran wajib masker dari CDC ini juga berlaku bagi semua siswa dan guru di taman kanak-kanak hingga sekolah kelas 12. Itu termasuk mereka yang sudah divaksin. CDC mengatakan, anak-anak harus kembali belajar penuh waktu di musim gugur dengan strategi pencegahan yang tepat.

Perubahan pedoman dari CDC menandai pembalikan pengumuman sebelumnya pada bulan Mei. Diketahui, saat itu, CDC mendorong jutaan orang Amerika yang divaksinasi penuh untuk melepas penutup wajah mereka. Panduan yang diberikan CDC inipun sempat memungkinkan warga AS untuk menjalani kehidupan normal lagi.

Namun, kini situasi telah berubah lantaran AS memimpin dunia dengan hal jumlah rata-rata harian infeksi baru. Bahkan, dalam tujuh hari ini, rata-rata kasus baru telah meningkat tajam dan mencapai hingga 57.126, seperti diwartakan oleh CNA. 

CDC juga mengungkap bahwa 63 persen negara bagian AS telah mencatat penularan COVID-19 yang tinggi. Begitu pula dengan transmisi varian Delta yang sangat menular. Karena itulah, saat ini, sebagian besar negara bagian di AS masuk dalam kategori wajib  masker, kecuali wilayah Amerika Serikat Timur Laut dan sebagian Upper Midwest.

Direktur CDC, Dr. Rochelle Walensky pun mengaku paham bahwa warga AS mungkin sudah 'lelah dan frustrasi'. Namun, Walensky menunjuk pada data baru yang menunjukkan bahwa orang yang divaksin masih memiliki tanggung  jawab atas sejumlah risiko kecil. Dalam kasus yang jarang terjadi mereka juga dapat terinfeksi dan menyebarkan virus ke orang lain.

"Ini bukan keputusan yang diambil dengan mudah. Setiap hari, varian Delta bergerak dan mengakali kita. Ketika kami memeriksa kasus infeksi langka, kami melihat jumlah virus pada orang-orang itu, itu sangat mirip dengan jumlah virus pada orang yang tidak divaksinasi.  Dan, mungkin karena viral load yang lebih tinggi ini, orang dengan kasus Delta mungkin dapat menyebarkannya."

"Tidak seperti varian Alpha yang kami miliki pada bulan Mei di mana kami tidak percaya bahwa jika Anda divaksinasi, Anda dapat menularkan lebih lanjut. Tapi ini sekarang berbeda sekarang dengan varian Delta," terang Walensky seperti dikutip dari NPR.

Hal senada juga diungkap oleh Dr David Doudy, ahli epidemiologi dari Universitas Johns Hopkins. Doudy  mengatakan pedoman CDC terlihat dimotivasi oleh perubahan pola infeksi. 

"Kami melihat setiap 10 hari atau lebih, jumlah kasus mencapai dua kali lipatnya," ucap Doudy.

Presiden Federasi Guru AS, Randi Weingarten juga telah memuji panduan masker CDC yang baru. Dalam pernyataannya, Weingarten mengatakan masker diperlukan 'untuk menghadapi perubahan realitas penularan virus'.

"Aturan ini adalah tindakan pencegahan yang diperlukan sampai anak-anak di bawah 12 tahun dapat menerima vaksin COVID dan lebih banyak orang Amerika di atas 12 mendapatkan vaksinasi," katanya.

Namun, rekomendasi CDC yang baru ini tidak mengikat dan banyak orang AS, terutama di negara bagian yang condong ke Partai Republik, mungkin memilih untuk tidak mengikutinya. Setidaknya delapan negara bagian melarang sekolah mewajibkan masker.

Sementara CDC memperbarui pedomannya, pemerintahan Joe Biden telah mengonfirmasi untuk tidak mencabut pembatasan perjalanan internasional yang sudah ada. Adapun alasannya adalah karena jumlah kasus COVID-19 di AS tengah meningkat dan ada prediksi bahwa infeksi akan terus melonjak dalam beberapa minggu ke depan.

Sejauh ini, AS membukukan total infeksi dengan jumlah menembus hingga 35,5 juta kasus.Sementara jumlah kematian COVID-19 keseluruhan menurut Wolrdometers adalah sebanyak 627.351 kasus. Angka ini menjadikan AS sebagai negara dengan jumlah infeksi dan kematian COVID-19 tertinggi di dunia. []