Ekonomi

Industri Telekomunikasi Menanti Penerapan UU Cipta Kerja

Industri telekomunikasi menanti penerapan regulasi turunan UU Cipta Kerja dalam rangka menciptakan iklim dunia telekomunikasi lebih baik.


Industri Telekomunikasi Menanti Penerapan UU Cipta Kerja
Ratusan ribu buruh dari Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) melakukan aksi di depan Gedung DPR RI, Jalan Gatot Soebroto, Senayan, Jakarta, Senin (20/1/2020). Dalam aksinya mereka menolak Rancangan Undang-Undang Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja dan juga menolak kenaikan iuran BPJS Kesehatan yang mulai berlaku per 1 Januari lalu. (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Ketua Umum Asosiasi Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Kristiono mengemukakan bahwa industri telekomunikasi menunggu penerapan dari regulasi turunan UU Cipta Kerja dalam rangka menciptakan iklim yang lebih baik bagi dunia telekomunikasi nasional.

"Harapan baru dari UU Cipta Kerja patut ditunggu," kata Kristiono dalam rilis yang diterima di Jakarta, Jumat (11/12/2020).

Menurut dia, berbagai operator telekomunikasi perlu mewaspadai kompetisi tidak sehat yang terjadi saat ini.

Ia memaparkan meski diprediksi tumbuh 5,3 persen pada 2021, beban investasi berpotensi menghambat pertumbuhan industri.

"Saat ini, harga paket data di Indonesia hanya di kisaran US$0,4 per gigabit, menjadi yang terendah kedua di dunia. Padahal, peningkatan konsumsi rata-rata paket data mencapai 87 persen per tahun. Pada gilirannya, kondisi ini akan menekan arus kas perusahaan dan berpotensi menggerus EBITDA margin yang turun 5 persen dibandingkan 10 tahun lalu. Return on Invested Capital juga menurun secara signifikan menjadi hanya 1 persen di 2019 dari sebelumnya 7 persen pada 2009," paparnya dilansir dari Antara.

Ia berpendapat bahwa tren seperti ini berpotensi menghambat pembangunan infrastruktur yang sangat esensial untuk mengembangkan ekonomi digital yang ada di Tanah Air.

Dengan harapan dari UU Cipta Kerja, lanjutnya, maka UU baru tersebut dinilai akan mengatur ketentuan infrastructure sharing baik pasif maupun aktif serta menetapkan batas tarif bawah dan tarif atas.

Jika berhasil diterapkan dengan baik, masih menurut dia, maka efisiensi investasi dan biaya operasional operator telekomunikasi bisa dicapai hingga naik 40 persen tanpa harus mengorbankan kualitas layanan.

"Tren cerah diperlihatkan klaster industri platform dan aplikasi yang diprediksi tumbuh signifikan. Industri data center diperkirakan melonjak dua kali lipat dari total kapasitas 53 megawatt (MW) di 2020 menjadi 120 MW di tahun depan. Kendati demikian, industri cloud computing lokal justru kian mendung akibat persaingan ketat para pemain asing. Hal senada juga akan terjadi di sektor internet of thing (IoT) yang diperkirakan mencapai 400 juta perangkat pada 2022 dengan pangsa pasar Rp444 triliun di Indonesia," ungkapnya.

Sumber: Antara