Ekonomi

Industri Tekstil dan Pakaian Jadi Belum Sepenuhnya Kuat


Industri Tekstil dan Pakaian Jadi Belum Sepenuhnya Kuat
Ekshibisi mesin tekstil dalam pameran industri tekstil dan produk tekstil (ITPT) terintegrasi bertaraf Internasional 'Indo Intertex dan Inatex' yang diselenggarakan di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (4/4). Pameran yang menghadirkan 900 perusahaan dari perusahaan lokal dan 23 mancanegara yang bergerak dalam industri tekstil dan garmen. Pameran yang saling terkait yakni Indo Intertex yang menghadirkan permesinan dan peralatan, sedangkan Inatex memamerkan aneka bahan baku serat, benang, kain, paka (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Konsultan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan World Economy Forum (WEF) Shirley Santoso menilai bahwa sejumlah industri tekstil dan pakaian jadi di Indonesia sudah memiliki kualitas baik dalam hal ekspor dan daya saing di pasar global.

"Beberapa pemain di Indonesia sudah cukup baik, misalkan mereka sudah bisa memproduksi tekstil untuk seragam militer Amerika Serikat, pakaian olahraga untuk merek-merek terkenal di dunia. Berarti dari sisi kualitas ekspor, mereka sebenarnya sudah cukup baik," ujar Shirley Santoso dalam wawancara dengan Antara di Jakarta, Senin (16/9/2019).

Kendati ekspor tekstil dan pakaian jadi kuat, menurut dia, pelaku industri dan pemerintah juga harus memperbaiki sektor industri tersebut secara sistematis sehingga mulai bagian hulu hingga hilir industri ini bisa seluruhnya kuat, dan tidak hanya bagian ekspornya saja yang selama ini kuat.

"Sekarang kuncinya bagaimana kita bisa memperluas beberapa perusahaan kecil dan menengah lainnya lebih besar. Maka dari itu kalau kita melihat dari sektor hulu ke hilir yakni bagaimana kita memperkuat kebutuhan bahan bakunya agar tidak terlalu bergantung pada impor. Berarti kita perlu membangun fasilitas domestik melalui kemitraan dengan negara asing," kata Shirley Santoso.

Industri tekstil merupakan salah satu dari kelima sektor industri yang menjadi fokus utama peta jalan industri Making Indonesia 4.0 yang diluncurkan oleh Kementerian Perindustrian.

Berdasarkan dokumen Making Indonesia 4.0 yang diterima Antara, salah satu strategi penerapan industri 4.0 untuk industri tersebut yakni meningkatkan kemampuan di sektor hulu, fokus pada produksi serat kimiawi dan bahan pakaian dengan biaya yang lebih rendah dan berkualitas tinggi untuk meningkatkan daya saing di pasar global.

Selain itu strategi lainnya adalah dengan meningkatkan produktivitas manufaktur dan buruh melalui penerapan teknologi, optimalisasi lokasi pabrik serta peningkatan ketrampilan.

Pada 2016, sektor ini mengkontribusikan 7 persen dari PDB manufaktur, 15 persen dari ekspor manufaktur, dan 20 persen dari tenaga kerja manufaktur. Secara historis, sektor ini merupakan kontributor ekspor manufaktur terbesar kedua di Indonesia. []

Sumber: Antara