Ekonomi

Industri Rokok Dituntut Minimalisir Dampak Negatif Kesehatan

Industri Rokok Dituntut Minimalisir Dampak Negatif Kesehatan
Ilustrasi orang menolak tawaran merokok (ISTIMEWA)

AKURAT.CO Tembakau sejak lama menopang penerimaan pajak negara melalui cukai, namun keberadaan industri rokok banyak sekali mengundang kritik lantaran dinilai mengkampanyekan gaya hidup yang tidak sehat. 

Menurut data yang dihimpun dari laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes), meriahnya industri rokok juga membuat angka pecandu tembakau di Indonesia melonjak ke angka 90 juta jiwa yang tertinggi di dunia.

Bahkan saat ini industri rokok Indonesia memproduksi hingga 315 miliar batang per tahun. Berdasarkan catatan Kementerian Perdagangan (Kemendag), industri rokok Indonesia tumbuh hingga 10% setiap tahun.

baca juga:

Melihat hal tersebut, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Emanuel Melkiades Laka Lena mendorong agar industri rokok dapat mampu menyempurnakan dirinya dengan meminimalisir dampak negatif untuk kesehatan.

Dimana pihaknya menilai industri ini tidak bisa ditutup begitu saja, sebab banyak memperkerjakan tenaga kerja dan memberikan sumbangan APBN yang besar.

"Dari aspek kesehatan tadi bersama kita bahas bahwa rokok ini memang ditengarai dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan, kita dorong agar diminimalisir. Sedangkan potensi ekonomi dari industri rokok mereka besar sekali, kurang lebih 70 trilyun untuk sumbangan APBN," ujar Melki usai memimpin Tim Kunker Komisi IX DPR RI mengunjungi PT. HM Sampoerna Tbk di Jawa Timur, Senin (14/12/2020). 

Menurut politisi Fraksi Partai Golkar tersebut mengatakan, bahwa pihak PT. HM Sampoerna sendiri memang sudah serius dalam mengurangi dampak negatif dari rokok, terbukti dari riset yang saat ini dilakukan seperti membuat teknologi rokok elektrik tanpa asap.

Maka dengan itu dirinya meminta riset tersebut terus dilakukan dan segera disempurnakan.

"Tadi saat pertemuan kita diperlihatkan hasil dari penelitian produk rokok elektrik tanpa asap yang tidak terlalu serius menimbulkan dampak negatif untuk kesehatan. Hal seperti ini mesti kita dorong, agar upaya dari WHO dan Kementerian Kesehatan RI untuk bisa menekan orang yang terdampak karena poersoalan merokok bisa teratasi,"imbuhnya.