Ekonomi

Industri Pelayaran RI Minta Pemerintah Formulasikan Stimulus yang Lebih Masif


Industri Pelayaran RI Minta Pemerintah Formulasikan Stimulus yang Lebih Masif
Kapal tongkang saat mengangkut peti kemas di perairan kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (11/11). Aktivitas bongkar muat petikemas di Pelabuhan Tanjung Priok sampai Oktober 2017 mengalami sedikit kenaikan dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya (2016). Arus peti kemas sampai Oktober 2017 tercatat 1.656.979 box atau 2.088.799 TEUs atau naik 5,1 persen dalam (box) dan 4,7 persen dalam (TEUs) dibanding periode sama di tahun 2016 yaitu sebesar 1.576 554 box atau 1.994.090 (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Kalangan industri pelayaran minta pemerintah segera memformulasikan stimulus dunia usaha yang lebih masif guna menekan dampak akibat COVID-19 yang sampai kini belum bisa diketahui sampai kapan berakhir.

Selain itu, pelaku industri pelayaran juga berharap pemerintah dan OJK agar memperluas basis debitur yang mendapatkan restrukturisasi kredit, sehingga tidak terbatas pada debitur dengan plafon pinjaman Rp10 miliar.

"Industri yang terkena dampak COVID-19 merata, mulai dari industri kecil dan menengah hingga industri besar. Saat ini kondisi yang dirasakan akibat dampak bukan cuman sektor UMKM namun sudah merambah ke industri besar yang salah satunya adalah industri pelayaran," kata Ketua Umum Indonesia National Shipowners' Association (INSA) Carmelita Hartoto dilansir dari Antara, Jakarta, Rabu (13/5/2020).

Sejak sebulan masa pandemi COVID-19 di Indonesia, katanya, angkutan laut untuk penumpang sudah mengalami penurunan sebesar 50-70 persen, ditambah lagi dengan adanya kebijakan PSBB dan pembatasan pergerakan orang, jumlah arus penumpang bisa dikatakan turun 100 persen. Sedangkan biaya operasional kapal tetap berjalan, termasuk biaya investasi berupa pokok dan bunga pinjaman bank.

Adapun sektor angkutan kontainer, satu bulan terakhir telah mengalami penurunan volume cargo karena dampak dari pembatasan operasional sektor industri di beberapa tempat. Di tengah situasi yang terjadi tersebut, pelaku usaha angkutan kontainer mengalami kesulitan pembayaran tagihan dari pelanggan.

"Di sisi lain operasional perusahaan harus tetap dijaga agar berjalan dengan baik terutama yang terkait dengan faktor keselamatan," katanya.

Turunnya harga minyak di saat pandemi COVID-19, sangat berdampak pada sektor angkutan migas dan pelayaran lepas pantai. Sebagian besar perusahaan minyak melakukan efisiensi dan salah satunya adalah meninjau ulang harga sewa kapal hingga turun 30-40 persen.

“Beberapa sektor angkutan laut tersebut sudah merasakan himpitan yang besar seiring tekanan dari dampak pandemi yang melumpuhkan sebagian sektor ekonomi. Karena itu kami berharap pemerintah bisa segera merealisasikan relaksasi pinjaman akibat tekanan COVID-19," katanya.

Dia menilai harus ada langkah cepat tepat dan berkesinambungan, dengan resiko yang terukur yang tidak bisa ditunda lagi, harus segera dilakukan, untuk melengkapi paket kebijakan pemerintah sebelumnya seperti stimulus pajak.

Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Denon Prawiraatmadja mengatakan pemerintah harus mengambil langkah cepat jika tidak ingin pendemi COVID-19 semakin menekan ekonomi lebih dalam lagi.

Gejala krisis sudah sangat tampak pada ekonomi kuartal I-2020 yang hanya tumbuh sebesar 2.97 persen. “Jelas pertumbuhan ini terganggu akibat konsumsi masyarakat yang terdampak Covid-19, terutama di sektor jasa dan transportasi,” ujarnya.

Jika pada kuartal kedua, pemerintah tidak mengupayakan paket kebijakan yang lebih besar sebagaimana dilakukan negara-negara lain yang mengalokasikan belanja Covid-19 lebih hingga di atas 2 persen dari PDB, kemungkinan kontraksi ekonomi dan arus PHK akan berlanjut.

Beberapa di antaranya, tidak dapat bertahan sampai tahun depan jika masalah pandemi ini tidak segera ditekan. Belum lagi dampak langsung kepada industri pendukung seperti airport, AirNav dan penyelenggara avtur yang tidak mungkin terus melangsungkan kegiatan operasionalnya tanpa pendapatan usaha yang diperoleh dari maskapai. []

Sumber: Antara