Ekonomi

Industri Halal Punya Peran Signifikan Atas Performa Positif Neraca Perdagangan

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menilai industri halal berperan cukup signifikan atas performa positif neraca perdagangan Indonesia.


Industri Halal Punya Peran Signifikan Atas Performa Positif Neraca Perdagangan
Mendag Agus Suparmanto usai acara penyerahan bantuan penanggulangan COVID-19 dari Kemendag untuk sejumlah pasar di DIY, di Gedhong Pracimasono, Kantor Gubernur DIY, Kamis (2/7/2020) (AKURAT.CO/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menilai industri halal berperan cukup signifikan atas performa positif neraca perdagangan Indonesia.

"Industri halal memiliki peran yang cukup signifikan atas performa positif neraca perdagangan Indonesia," ujar Mendag dalam seminar daring di Jakarta, Sabtu (24/10/2020).

Menurut Agus, sebagai ilustrasi pihaknya ingin memberikan contoh dengan mencuplik performa ekspor Indonesia ke negara-negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI) periode Januari-Juli 2020.

Seperti yang telah diketahui sebagian besar negara-negara OKI mayoritas penduduknya beragama Islam yang memiliki tuntutan standar compliance atas jaminan produk halal yang cukup tinggi. Secara ukuran pasar, negara-negara OKI merupakan pasar yang luar biasa terdiri dari 57 negara dengan total populasi Muslim sebesar 1,86 miliar jiwa.

"Mengacu data tersebut kinerja perdagangan Indonesia dengan negara-negara OKI menunjukkan performa yang cukup baik. Indonesia mampu mencatat surplus US$2,2 miliar di mana mampu membukukan ekspor ke negara-negara OKI sebesar US$10,94 miliar," kata Mendag dilansir dari Antara.

Produk pertanian memiliki kontribusi tertinggi bagi ekspor Indonesia ke negara-negara OKI sebesar US$2,6 miliar atau sekitar 25 persen dari total ekspor Indonesia ke pasar tersebut.

"Kinerja ekspor Indonesia ke negara-negara Muslim periode Januari-Juli 2020 yang baik tidak bisa dilepaskan dari peran produsen produk halal Indonesia, khususnya untuk produk makanan, komestik dan obat-obatan. Ketiga produk ini berkontribusi total senilai US$515,79 juta," ujar Mendag.

Dalam paparannya, Mendag menyampaikan bahwa Ekspor periode Jan-Jul 2020 untuk makanan tercatat sebesar US$454,16 juta atau meningkat 11,37 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$407,81 juta.

Sedangkan ekspor periode Jan-Jul 2020 untuk obat-obatan tercatat sebesar US$31,31 juta atau meningkat 12,33 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$27,87 juta. Namun ekspor periode Jan-Jul 2020 untuk kosmetik tercatat sebesar US$30,32 juta atau menurun 8,15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$33,01 juta.

"Walaupun performa neraca perdagangan Indonesia di negara-negara OKI sudah positif, Indonesia belum terlihat berperan maksimal sebagai kiblat produk halal dunia khususnya bagi makanan, kosmetik dan obat-obatan," kata Agus Suparmanto.

Menurut Mendag, pangsa pasar ekspor bagi ketiga produk Indonesia ke negara-negara OKI masih jauh berada di bawah negara-negara non-Muslim, seperti Brazil, Perancis, Amerika Serikat dan Jerman.

Brazil merupakan eksportir terbesar produk makanan ke negara OKI dengan pangsa 10,51 persen diikuti Thailand 8,15 persen, Turki 5,76 persen, India 5,5 persen, Republik Rakyat China (RRC) 4,97 persen sementara Indonesia di urutan ke 20 dengan pangsa 1,86 persen. Untuk kosmetik, Perancis eksportir terbesar dengan pangsa 17,38 persen, Amerika Serikat 7,57 persen, Jerman 7,05 persen, Italia 5,5 persen, RRT 5,08 persen dan Indonesia di urutan ke 23 1,41 persen.

Ekspor Produk obat-obatan dikuasai oleh Jerman 13,84 persen kemudian Perancis 13,58 persen, Swiss 9,47 persen, India 7,86 persen, Amerika Serikat 6,93 persen, sementara Indonesia di urutan ke 48 dengan pangsa 0,12 persen. []

Sumber: Antara