Ekonomi

Indonesia-UEA Kerja Sama Rehabilitasi Mangrove

Indoenesia akan lakukan kerja sama dengan Uni Emirate Arab untuk rehabilitasi pohon mangrove


Indonesia-UEA Kerja Sama Rehabilitasi Mangrove
Hutan mangrove yang tergerus ombak laut di kawasan pantai Mekar, Muara Beting, Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Minggu (14/6/2020). Pemerintah Kabupaten Bekasi berencana akan menata kawasan hutan Mangrove Muaragembong untuk dijadikan tujuan ekowisata di kawasan tersebut. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Indonesia bersama Uni Emirat Arab (UEA) segera memulai kerja sama rehabilitasi mangrove, setelah pembahasan program tersebut dalam pertemuan delegasi kedua negara di Dubai, UEA awal pekan lalu.

Nani Hendiarti selaku Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, bertemu dengan Menteri Perubahan Iklim dan Lingkungan Hidup Uni Emirat Arab, Abdullah Mohammad Bel Haif Al Nuaimi pada Senin (26/10/2020) untuk membahas program rehabilitasi mangrove Indonesia.

Turut hadir juga perwakilan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Duta Besar Indonesia untuk UEA, Husin Bagis dalam pertemuan tersebut.

"Secara alami, mangrove berfungsi sebagai pelindung pantai dari gelombang besar, penyerap karbon dan penghasil oksigen sekaligus sebagai tempat berlindung dan pemijahan ikan. Oleh karena itu, kerja sama pengembangan rehabilitasi mangrove antara Indonesia dan UEA ini menjadi sangat penting dan 'urgent' (penting) bagi kedua belah pihak," kata Nani dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu.

Nani mengatakan pada masa pandemi COVID-19, kegiatan rehabilitasi mangrove melalui program padat karya yang dicanangkan oleh pemerintah terbukti bisa membantu pemulihan ekonomi masyarakat pesisir terkena dampak.

Guna mendukung program rehabilitasi mangrove Indonesia yang ditargetkan hingga 600.000 hektare dalam kurun waktu empat tahun ke depan sebagaimana disampaikan oleh Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan pada kunjungannya ke Brebes, 22 Oktober 2020 lalu, diperlukan kontribusi multi pihak termasuk UEA.

"Oleh karena itu, program kerja sama bilateral untuk pengembangan mangrove ini perlu segera diimplementasikan," kata Nani.

Dalam pertemuan itu, pemerintah Indonesia juga menawarkan spesies mangrove dari Indonesia untuk upaya rehabilitasi dan konservasi mangrove di UEA.

Pemerintah Indonesia juga menyampaikan usulan pengembangan Mega Proyek Mangrove seluas minimal 10.000 hektare dalam kurun waktu empat tahun dan disambut baik oleh Menteri Abdullah.

Sumber: Antara