Ekonomi

Indonesia Perlu Diversifikasi Negara Pemasok Kedelai Antisipasi Kenaikan Harga!

Pemerintah perlu mempertimbangkan opsi untuk diversifikasi pasar impor kedelai


Indonesia Perlu Diversifikasi Negara Pemasok Kedelai Antisipasi Kenaikan Harga!
Pedagang mengecek kualitas kedelai di Toko Kedelai di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, Kamis (10/6/2021). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Pemerintah perlu mempertimbangkan opsi untuk diversifikasi pasar impor kedelai guna memastikan jumlah pasokan dan kestabilan harganya di pasar dalam negeri. Diversifikasi juga penting dilakukan supaya Indonesia tidak tergantung pada satu negara manapun.

”Pembelian besar-besaran kedelai Amerika Serikat oleh China dan krisis iklim yang melanda Argentina dan Brazil mempengaruhi jumlah pasokan dan kestabilan harga kedelai di Indonesia. Karena pasokan kedelai kita didominasi Amerika Serikat, sangat penting untuk mencari sumber pasar tambahan yang juga mampu memasok kedelai untuk pasar kita,” jelas Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Aditya Alta lewat keterangan tertulisnya kepada Akurat.co, Selasa (25/1/2022).

Berdasarkan data World Atlas, Brazil merupakan negara penghasil kedelai terbesar di dunia dengan jumlah produksi mencapai 124 juta metrik ton pada 2019-2020. Posisi kedua ditempati Amerika Serikat dengan produksi sebesar 96,79 juta metrik ton.

baca juga:

Negara tetangga Brazil, yaitu Argentina, berada di urutan ketiga dengan 51 juta metrik ton. China, Paraguay dan India masing-masing berada di peringkat keempat, kelima dan keenam dengan jumlah produksi 18,1 juta metrik ton, 9,9 juta metrik ton dan 9,3 juta metrik ton.

“ Indonesia dapat menjajaki kemungkinan untuk membuka hubungan dengan negara eksportir kedelai nontradisional. Tidak tergantungnya kita pada satu negara saja dapat membantu meminimalkan dampak gangguan pasokan dari negara pemasok utama terhadap kestabilan harga kedelai di Tanah Air,” ungkap Aditya.

Berdasarkan data dari Trademap, lebih dari 90 persen pasokan kedelai Indonesia dipenuhi oleh Amerika Serikat. Terdapat penurunan sumbangan impor kedelai dari Amerika Serikat, dari hampir 99 persen pada tahun 2016, menjadi 90,43 persen pada 2020.

Peringkat kedua pemasok kedelai Indonesia adalah Kanada, dengan proporsi yang jauh lebih kecil namun mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2016, Kanada menyumbang 0,33 persen kedelai impor.

Nilai ini menjadi 9,28 persen pada tahun 2020. Perkembangan ini menunjukkan diversifikasi mulai terjadi, namun berlangsung sangat lamban. Secara garis besar impor kedelai masih sangat bergantung pada Amerika Serikat.

Pentingnya kedelai bagi masyarakat Indonesia dapat dilihat dari peningkatan jumlah konsumsi kedelai tiap tahunnya. Berdasarkan data dari USDA, konsumsi kedelai untuk pangan di Indonesia pada 2020 naik sebesar 4,03 persen dari 2,89 juta ton di 2019 menjadi 3,1 juta ton di 2020.

Pemerintah sebenarnya sudah cukup terbuka terhadap impor kedelai. Hal itu dapat dilihat dari tidak adanya tarif pada komoditas yang satu ini.

Tetapi Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 45/2013 mewajibkan importir terlibat dalam Program Stabilisasi Harga Kedelai. Importir harus membeli kedelai hasil petani lokal sebelum mendapatkan izin impor.

Meski tujuannya memastikan terserapnya kedelai lokal, peraturan ini tidak mempersyaratkan mutu hingga kedelai bermutu buruk pun harus diserap importir.

“ Peraturan ini tidak membahas dan menyelesaikan permasalahan mengenai mutu, padahal ia merupakan salah satu inti permasalahan kedelai. Peningkatan mutu kedelai domestik juga penting karena berdampak pada daya saing,” tandasnya.

Minimnya penggunaan teknologi dalam budidaya kedelai menyebabkan fasilitas pendukung seperti pengering belum dapat diakses dengan mudah oleh petani. Padahal fasilitas pengering sangat dibutuhkan untuk mengurangi kadar air dalam kedelai.[]