Lifestyle

Indonesia Masih Kekurangan Buku, Ayo Menulis!

bahan bacaan sangat dibutuhkan oleh masyarakat di daerah


Indonesia Masih Kekurangan Buku, Ayo Menulis!
Sharing session Perpusnas Writers Festival 2021 (Dok. Perpusnas)

AKURAT.CO, Antusiasme membaca masyarakat Indonesia belum diimbangi dengan jumlah buku yang bisa diakses dan distribusinya. Ketersediaan buku yang belum memadai menunjukkan bahwa kondisi yang dialami Indonesia bukan pada rendahnya minat baca, melainkan kekurangan buku. Menurut standar yang ditetapkan Unesco, seharusnya ada tiga buku untuk satu orang penduduk.

Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI Joko Santoso menyatakan, pada tahun 2020, Perpusnas melakukan kajian aktivitas membaca masyarakat Indonesia. Hasilnya, mendapatkan angka yang cukup tinggi yakni rata-rata 9 jam 52 menit per pekan.

Penulis sekaligus pegiat literasi, Maman Suherman, sepakat dengan hal ini. Berdasarkan pengalamannya berkeliling Indonesia dan bertemu dengan banyak taman bacaan masyarakat dan pemustaka, dia menilai permasalahan yang ada bukan mengenai rendahnya minat baca, melainkan akses terhadap bahan bacaan.

Dalam sharing session Perpusnas Writers Festival 2021 yang diselenggarakan secara virtual, Maman berkisah pernah hampir tenggelam saat menaiki perahu Pustaka di Sulawesi Barat. Saat itu, ujarnya, bukan cuma dia yang diselamatkan tapi buku-buku pun ikut dijaring, kemudian disetrika setiap halamannya. Dia mengaku terenyuh, betapa bahan bacaan sangat dibutuhkan oleh masyarakat di daerah dan penyebarannya masih belum merata di seluruh Indonesia.

“Bagi mereka, buku adalah berlian yang tidak boleh hilang dan harus sampai ke tujuan. Begitu sulitnya akses terhadap bahan bacaan, menjadikan satu buku sangat berharga,” kenang pria yang akrab disapa Kang Maman itu pada Selasa, (15/6/2021).

Bupati Magetan, Suprawoto, mengungkapkan, akses terhadap bahan bacaan harus dipermudah. Adapun upaya yang sudah dilakukan di Magetan antara lain menempatkan perpustakaan di lokasi yang strategis dengan fasilitas yang menarik masyarakat untuk berkunjung.

“Di Magetan, perpustakaan ditempatkan di lokasi yang sangat strategis yaitu di samping alun-alun. Dengan begitu, masyarakat tentu antusias. Kemudian, supaya menarik, di sana juga dipasang Wi-Fi kencang,” ujarnya Bupati yang juga penulis ini.

Menulis merupakan aktivitas yang dapat menembus ruang dan waktu. Dengan menulis, dia meyakini, individu akan dikenang selamanya. Melalui tulisan, Suprawoto juga berupaya melestarikan budaya. Sebagai keturunan Jawa, Suprawoto mempertahankan budayanya dengan membuat tulisan menggunakan bahasa jawa.

“Kalau bahasa jawa hilang, saya berdosa,” ucapnya.