Ekonomi

Indonesia Dinilai Makin Kuat Pasca Pandemi, Jadi Ekonomi ke-7 Terbesar di Dunia

Ikatan Alumni Harvard di Indonesia menilai Indonesia bisa menjadi lebih kuat pasca pandemi. Bahkan ekonomi ke-7 terbesar di dunia pada 2030 dapat tercapai.


Indonesia Dinilai Makin Kuat Pasca Pandemi, Jadi Ekonomi ke-7 Terbesar di Dunia
Warga beraktivitas dengan latar belakang gedung yang berdiri di Jakarta, Senin (8/3/2021). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Ikatan Alumni Harvard di Indonesia, Harvard Club of Indonesia (HCI) menilai pelajaran yang berharga dan bisa menjadi peluang besar untuk Indonesia melangkah ke depan pasca pandemi covid-19 yaitu menuju Indonesia Emas 2045.

Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan pandemi COVID-19 memberikan banyak pelajaran penting bagi seluruh golongan masyarakat di Indonesia. Selain tantangan dan pelajaran berharga, pandemi ini juga membuka begitu banyak peluang bagi Indonesia untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi nasional. 

"Kami, di Kementerian Investasi, menganggap pandemi ini sebagai peluang di tengah tantangan. Kenapa saya katakan sebagai peluang, yang pertama kita melakukan reformasi terhadap regulasi kita yang tumpang tindih. Yang kedua, kita diberikan kesempatan untuk melakukan konsolidasi domestik. Kita tahu pada tahun 2020 pada saat pandemi menggoyang ekonomi global sehingga foreign direct investment ke Indonesia turun signifikan, ekonomi kita tetap relatif lebih baik dibandingkan negara lain karena kita ditopang oleh investasi domestik. Nah ini harus dilihat sebagai peluang,” ujar Bahlil dalam sebuah diskusi yang ertajuk: Bertumbuh di Dunia Pasca-Pandemi: Bagaimana Indonesia Bisa Bangkit dan Berjaya? - Growing in a post-pandemic world: How Can Indonesia Thrive in The Upcoming Post-Covid World?, Rabu (20/10/2021). 

Lebih lanjut Bahlil menjelaskan bahwa investasi memiliki peran sangat penting dalam rangka mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional. Sesuai dengan arahan Presiden RI Joko Widodo, bahwa transformasi ekonomi harus didorong untuk mengarah pada hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah. Indonesia tidak boleh dikenal dunia sebagai pengimpor bahan baku mentah.

“Saya berpendapat bahwa dalam proses menggiring kesana, penting melakukan investasi berkelanjutan, salah satu diantaranya kegiatan investasi yang berbasis ekonomi hijau dan ekonomi biru,” lanjut Bahlil.

Senada dengan Menteri Investasi, CEO Indonesia Investment Authority (INA) Ridha Wirakusumah mengatakan benar bahwa pandemi COVID-19 ini telah memberikan pelajaran penting buat kita semua dengan mengekspos hal-hal yang masih perlu diperkuat di Indonesia, antara lain sistem dan layanan kesehatan, logistik dan infrastruktur, digital technology, juga kompetensi sumber daya manusia. 

“Pandemi telah mengekspos kelemahan-kelemahan kita, dan saya rasa justru ini bisa jadi kesempatan Indonesia untuk memperbaiki akar masalahnya juga memperkuat area-area tersebut dengan lebih terfokus, seperti antara lain di bidang infrastruktur kesehatan, digital economy, digital infrastructure, kemampuan SDM, dan sustainability,” jelas Ridha. 

Ridha juga mengatakan bahwa INA terus menggali berbagai peluang kolaborasi dengan sejumlah investor baik investor dalam negeri dan investor global untuk berinvestasi di Indonesia. Menurutnya para investor memiliki ketertarikan yang tinggi untuk berinvestasi di Indonesia apalagi Indonesia terus membenahi ekosistem investasi, kepastian regulasi, serta proses investasi yang jelas dan transparan. 

"Ketertarikan investor terus tinggi untuk berinvestasi di Indonesia karena kita punya begitu banyak potensi luar biasa. Tugas kita semua adalah untuk memastikan potensi itu dapat direalisasikan. Oleh karena itu, semua elemen pelaku usaha, pemerintah, dan stakeholder terkait harus bergerak bersama menuju satu tujuan,” tutup Ridha.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Arsjad Rasjid mengatakan bahwa saat ini Indonesia sedang menghadapi dua perang sekaligus yaitu Pandemi COVID-19 dan Ekonomi. 

Untuk menghadapi kedua peperangan tersebut, Arsjad mengatakan bahwa KADIN percaya dengan gotong royong. Gotong royong skala besar yang melibatkan berbagai elemen pengusaha, masyarakat dan pemerintah untuk melawan pandemi dan pada saat yang bersamaan menjaga serta memulihkan sektor ekonomi. 

“KADIN percaya kedua perang ini dapat kita menangkan dengan gotong royong, dan dengan pendekatan gotong royong inilah kita melawan pandemi, mulai dari vaksinasi, hingga berbagai program dan aktivitas untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional, termasuk membantu pada pelaku mikro dan UMKM kita untuk tetap tangguh menghadapi pandemi dan bisa naik kelas. Tentunya ini akan memperkuat strategic roadmap kita menuju Indonesia emas 2045,” jelasnya. 

Arsjad kemudian mengatakan bahwa semua elemen bangsa harus bekerja sama demi memastikan proyeksi Indonesia sebagai negara dengan ekonomi ke-7 di dunia pada tahun 2030 dapat tercapai sebagai milestone dari visi Indonesia Emas 2045.

“Menurut KADIN ada lima cara untuk merealisasikan hal tersebut, yakni: Mendorong teknologi digital untuk meningkatkan sektor pertanian; Mempercepat adopsi Industri 4.0; Membawa teknologi modern kepada pelaku UMKM; Memfokuskan program pelatihan pada kebutuhan masa depan dalam hal ini membangun rantai pasokan dan kekuatan logistik; serta Mengeksekusinya secara konsisten,” tutupnya. 

Sebagai informasi, diskusi hangat tersebut dibuka oleh President Harvard Club of Indonesia Melli Darsa dan dipandu moderator Guillaume de Gantès, alumni Harvard Business School yang saat ini adalah Senior Partner McKinsey Indonesia tersebut dihadiri oleh lebih dari 200 peserta dan sejumlah panelis pembicara, termasuk salah satunya Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia.[]