Lifestyle

Indonesia Diminta Lakukan Penelitian Cacar Monyet Seperti Amerika Serikat

Indonesia Diminta Lakukan Penelitian Cacar Monyet Seperti Amerika Serikat
Kasus berasal dari seorang pria Inggris berusia 42 tahun, yang bekerja sebagai pramugari. (Flipboard)

AKURAT.CO, Kementerian Kesehatan sudah mengumumkan kasus pertama cacar monyet di Indonesia.

Seharusnya pemerintah terkait, melakukan riset kesehatan dari kasus ini seperti Amerika Serikat.

Diketahui, menurut jurnal ilmiah Morbidity and Mortality Weekly Report 19 Agustus 2022 melaporkan hasil penelitian mereka yang menunjukkan ditemukannya materi genetik  cacar monyet pada berbagai permukaan alat/benda, di rumah dua pasien cacar monyet di Utah Amerika serikat.

baca juga:

Berdasarkan penelitian tersebut Ke dua pasien ini mendapat cacar monyet sesudah kembali dari perjalanan keluar negeri dan diisolasi di rumahn ya selama 20 hari.

Sesudah itu maka petugas kesehatan setempat dari “Utah Department of Health and Human Services (UDHHS)” datang kerumah itu untuk mengambil sampel dari 30 obyek di 9 area rumah itu, termasuk pakaian, tempat duduk, selimut, pegangan pintu dll.

Dari 30 spesimen ini, 21 spesimen atau sekitar 70% ternyata memberi hasil polymerase chain reaction (PCR) positif terhadap cacar monyet.

Para penelitian kemudian melanjutkan penelitiannya dengan mencoba menumbuhkan virus dari PCR positf itu, tetapi memang ternyata tidak ada yang tumbuh di kultur di laboratorium.

Menurut Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara sekaligus Guru Besar FKUI, Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan bahwa kasus pertama cacar monyet di Indonesia, memiliki kemiripan yang dekat dengan kasus di penelitian tersebut.

"Kasus pertama kita juga di isolasi mandiri di rumah, dan sekarang sudah sekitar 10 hari isolasi sesudah kasusnya terkonfirmasi pada 19 Agustus, maka sebaiknya pada kasus satu orang kita ini juga dilakukan penelitian di rumahnya sesudah masa isolasi selesai, jadi ada waktu untuk persiapan sejak sekarang," ujar Prof Tjandra melalui keterangan tertulis, dikutip pada Minggu (28/8/2022).

Menurut Prof Tjandra, bentuk penelitian seperti ini adalah laik laksana di Jakarta, jadi baiknya memang harus dilakukan. 

"Jadi, kita bukan hanya punya data, tetapi juga dapat dipublikasi di jurnal internasional untuk memperkaya khasanah ilmu pengetahuan global agar dunia dan kita semua dapat mengendalikan cacar monyet dengan lebih baik. Indonesia memang harus terus menggalakkan riset kesehatan," jelasnya.[]