News

Indonesia Dianggap 'Negara Kunci' dalam KTT Iklim COP26, Industri Sawit Tuai Sorotan

Sebagai pengekspor terbesar di dunia, produksi sawit Indonesia telah mendorong perusakan pohon dan hilangnya wilayah bagi masyarakat adat.


Indonesia Dianggap 'Negara Kunci' dalam KTT Iklim COP26, Industri Sawit Tuai Sorotan
Penggundulan hutan Amazon meningkat drastis di bawah pemerintahan Presiden Brasil Jair Bolsonaro. (Foto: BBC) ()

AKURAT.CO, Lebih dari 100 pemimpin dunia akan berjanji untuk mengakhiri dan membalikkan deforestasi pada tahun 2030. Kesepakatan besar ini bakal ditandatangani dalam KTT iklim COP26 di Glasgow pada Selasa (2/11). Para penandatangannya pun mencakup sejumlah negara kunci, termasuk Indonesia.

Dilansir dari BBC, penebangan pohon berkontribusi terhadap perubahan iklim lantaran memusnahkan hutan yang menyerap banyak gas CO2 yang memanaskan.. KTT selama 2 pekan di Glasgow itu pun dipandang penting jika perubahan iklim ingin dikendalikan. Negara yang menyatakan akan menandatangani perjanjian tersebut di antaranya meliputi negara yang menaungi 85 persen hutan dunia, yaitu Kanada, Brasil, Rusia, dan Indonesia.

Perjanjian ini juga mencakup hampir 14 miliar poundsterling (Rp272 triliun) dana publik dan swasta. Sebagian dari dana tersebut akan diberikan ke negara-negara berkembang untuk memulihkan lahan yang rusak, mengatasi kebakaran hutan, dan mendukung masyarakat adat.

Pemerintah dari 28 negara juga akan berkomitmen untuk menghapus deforestasi dari perdagangan global pangan dan produk pertanian lainnya, seperti minyak kelapa sawit, kedelai, dan kakao. Pasalnya, industri-industri ini mendorong penggundulan hutan untuk memberi ruang bagi hewan untuk merumput atau tanaman untuk tumbuh.

Lebih dari 30 perusahaan terbesar dunia akan berkomitmen untuk mengakhiri investasi dalam kegiatan yang terkait dengan deforestasi. Dana 1,1 miliar poundsterling (Rp21 triliun) pun akan digalang untuk melindungi hutan hujan tropis terbesar kedua di dunia, yaitu di Cekungan Kongo.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, yang menjadi tuan rumah pertemuan global ini di Glasgow, menyebutnya sebagai perjanjian penting untuk melindungi dan memulihkan hutan di Bumi.

"Ekosistem besar yang padat ini, katedral alam ini, merupakan paru-paru planet kita," ucapnya.

Indonesia yang akan ikut menandatangani kesepakatan ini juga menuai perhatian. Pasalnya, negara ini merupakan pengekspor minyak sawit terbesar di dunia, produk yang ditemukan dalam segala hal, mulai dari sampo hingga biskuit. Produksinya pun mendorong perusakan pohon dan hilangnya wilayah bagi masyarakat adat, tulis BBC.

Sementara itu, hutan alam Rusia yang luas, yang mencakup seperlima pohon di planet ini, menangkap lebih dari 1,5 miliar ton karbon setiap tahunnya.

Di hutan hujan terbesar Bumi, Amazon, deforestasi semakin cepat menembus level tertinggi pada tahun 2020 di bawah Presiden Brasil Jair Bolsonaro.

"Sangat penting Brasil ikut menandatangani kesepakatan tersebut karena negara itu punya sebagian besar hutan tropis. Namun, dananya harus disalurkan kepada mereka yang dapat membuat tujuan ini berhasil di lapangan," komentar Ana Yang, direktur eksekutif di Chatham House Sustainability Accelerator, yang ikut menulis laporan Rethinking the Brazilian Amazon.

Banyak orang yang tinggal di Amazon, termasuk di daerah perkotaannya, bergantung pada hutan untuk mata pencaharian mereka. Jadi, mereka butuh dukungan untuk mencari sumber penghasilan yang baru.

Pohon adalah salah satu pertahanan utama di Bumi yang memanas. Bertindak sebagai penyerap karbon, mereka menyedot karbon dioksida dari atmosfer. Sekitar sepertiga dari CO2 global yang dipancarkan setiap tahun telah diserap oleh pepohonan.

Saat ini kawasan hutan seluas 27 lapangan sepak bola hilang setiap menitnya. Hutan yang habis juga dapat mulai melepaskan CO2. Jika terlalu banyak pohon yang ditebang, para ilmuwan khawatir planet ini akan mencapai titik kritis yang akan memicu perubahan iklim mendadak dan tak dapat diprediksi.

"COP26 merupakan langkah yang sangat penting. Pertemuan ini membahas peningkatan ambisi dan menjaga agar kenaikan suhu global tak melebihi 1,5 deraja Celsius. Ada lebih banyak negara, lebih banyak pemain, dan lebih banyak uang yang terlibat dalam kesepakatan. Inilah rencana besarnya," pungkas Yang. []